Postingan

Sekarsa: Rumahmu Bukan Aku

Gambar
Rumahmu Bukan Aku   Kau melangkahkan kaki kecilmu Di sampingku Kita menciptakan senyuman lugu Karena alunan bayu yang lucu Dan kau ayunkan jemari kurusmu Menggenggamku Kita berlari di bawah mendung Serta senja yang nyaris layu Kau menepi di antara rintik gerimis Padahal ia tak begitu membasahi Namun, kau membenci hujan yang kucintai Kasih itu ternyata tak kau jabarkan dengan manis  Genggaman itu kau buang  Sembari meneduh kau hilang Aku berdiri seorang Apakah kau telah memilih pulang? Ya, baik. Mungkin kita harus berhenti bepergian Karena tujuan yang sebenarnya tidak menentu

Sekarya: Penggunaan Reduplikasi pada Karya Sastra Cerpen Berjudul “Gambar Perahu Layar di Dinding” Karya Chairil Gibran Ramadhan

 Penggunaan Reduplikasi pada Karya Sastra Cerpen Berjudul “Gambar Perahu Layar di Dinding” Karya Chairil Gibran Ramadhan Putri Meilia Sari 22201241012 e-mail: putrimeilia.2022@student.uny.ac.id Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan reduplikasi pada salah satu karya sastra berbentuk cerpen dengan judul “Gambar Perahu Layar di Dinding” y ang ditulis oleh Chairil Gibran Ramadhan. Metode penelitian yang digunakan ya kni metode kualitatif deskriptif dengan objek kajian berupa cerpen.  Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan ditemukan beberapa proses reduplikasi yang ada  pada cerpen yakni, 17 reduplikasi penuh, 3 reduplikasi sebagian, 12 reduplikasi  engan pembubuhan, serta 1 reduplikasi dengan perubahan fonem. Keseluruhan  reduplikasi yang ditemukan pada cerpen ada sebanyak 33 kata ulang. Kata kunci: reduplikasi, cerpen, morfologi LATAR BELAKANG Cerpen merupakan salah satu bentuk karya sastra berbentuk prosa yang diciptakan penu...

Sekarsa: Kembali

Gambar
 Kembali Dan kau kembali temukan Rumah pulang. Dengan kaki telanjang Melalui jalanan yang Tak bertuankan angan. Dan kau kembali temukan Rajutan benang senyuman Yang kusut kusam. Tak bersentuhan Dengan senyawa. Dan kau kembali temukan Detak jantung. Memburu Pun bersedia mati karena Bertaut dengan rasa angkuhnya. Dan kau kembali temukan Tumbuhan belukar. Yang layu Bermimik muka sayu Tanpa rasa malu.  Kau kembali dengan secarik puisi. Menjadikan senja yang tak berpenghuni Tenggelam mengabdi pada hening Melimbungkan diri Untuk menolak jatuh kepada patahan hati.

Sekarsa: ??

Gambar
 ?? Bahwa jika Tatapan ini hanya menjurusmu Seperti sorot kamera Yang membidik objeknya.  Terus terjatuh  Bagai gerimis yang menyapa kota semalaman Kamu seperti alunan elegi.  Tak pernah diperdengarkan di sisi bumi mana pun  yang pernah ku kinjungi.  Karena dunia bukan sepenuhnya milik kita Maka, engkau adalah istimewa. Semesta sempurna Untuk kejatuhanku Pada musim kemuning aku sempat bertanya  kepada raja siang yang nyaris tertidur. Mengapa kita tidak dibiarkan saling membagi tawa? Tidak bolehkan aku menggenggamnya jemarimu yang hangat itu sedikit lebih lama? Lalu, batas senja jingga itu hanya mengembuskan angin. Yang sepenuhnya membisu. Dingin. Sepertinya memang belum ada  Jawabannya. Atau mungkin memang tidak pernah ada Jawabannya Nyaris larut Dengan berselimutkan sunyi aku berdiri. Tanpa suara Rembulan pun hadir menertawaiku. Bahkan untuk menunggumu pun,  Apa aku juga tidak diperbolehkan?

Sekarsa: Serupa Apa

Gambar
Serupa Apa Akan selalu ada tujuan untuk perginya Serta tegaknya rumah untuk pulangnya Detak jantungku yang acap kali bergemuruh Telah bertemu dengan tatap wajahnya yang cerah Tegak bersama kedua bahu yang tegap Menetap dengan rasa yang telah beralamatkan Dan sepucuk cinta yang bertuankan ia Berani aku menantang rindu Yang semula saling bertepuk menggebu  Menuntut ruang temu yang hangat Seperti dekapan di ujung senja Dan aku hanya ingin bertanya, Serupa persinggahan ataukah rumah sekiranya Diriku dalam kedua netramu itu?

Sekarya: Pembelajaran Bahasa Indonesia Dengan Sistem PJJ di Era Covid-19

Gambar
Pembelajaran Bahasa Indonesia Dengan Sistem PJJ di Era Covid-19 Sumber: https://www.kompas.com/ Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia pada awal tahun 2020 telah memberikan begitu banyak perubahan dalam segala aspek kehidupan manusia. Sektor pendidikan pun tak luput dari dampak persebaran Covid ini. Proses pembelajaran si sekolah sempat membeku total sebelum adanya pembelajaran secara online yang dicetuskan oleh pemerintah Indonesia. Menurut Alami (2020) Kemdikbud menerbitkan surat edaran berlanjut mengenai penyesuaian proses pembelajaran di era Covid-19 yang dalam masa darurat-daruratnya. Muncullah istilah Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau bisa disebut pula dengan pembelajaran online yang hingga hari ini masih kerap diterapkan pada dunia pendidikan. Hal tersebut bertujuan untuk meringankan beban guru, peserta didik, serta orang tua sebagai pembimbing belajar peserta didik. Selebih itu, Kemdikbud juga turut mengeluarkan kurikulum darurat yang susunannya disesuaikan dengan keada...

Sekarsa: Yang Kian Rela

Gambar
Yang Kian Rela Sumber: https://pin.it/7jqv8Vy Aku adalah pekat malam Dengan purnama muram ditelan mega mendung Membersamai embusan bayu musim penghujan Yang kian larut, kian deras tangisnya Aku adalah mawar merah jambu Dengan harum yang tak semerbak  Di antara belukarnya semak Meski demikian hilang durinya Yang kian layu, kian enggan dipandang Dan aku adalah sampan lusuh Dengan retak ceruk dudukannya Berenang tanpa dayung menemani Kemudian terombang-ambing ombak pasang Yang kian rapuh, kian rela awak tenggelam pada jelaga biru

Sekarya: Analisis Naskah Drama “Malam Jahanam” karya Mottinggo Boesie

Gambar
Analisis  Naskah Drama “Malam Jahanam” karya Mottinggo Boesie Sinopsis Drama “Malam Jahanam” karya Mottinggo Boesie Dalam naskah drama Malam Jahanam karya Mottinggo Boesie menceritakan bagaimana seorang keluarga yang hidup dengan konflik-konflik. Seorang suami yang hanya mementingkan dirinya dan hobi tanpa menghiraukan keluarga yang ada di rumah. Istri dan anak semata wayang yang berada di rumah juga perlu akan perhatian dan kasih sayang dari seorang kepala keluarga. Seorang istri tak mampu sendiri berdiri dalam menopang kehidupan keluarga, ia akan pincang dalam melalui kehidupan di dunia ini jika tidak adanya pendamping hidup, namun apa gunanya bila daya itu ada, mempunyai seorang suami yang banyak diharap akan dapat memberikan apa yang diharapkan terutama dalam cinta dan kasih sayang dalam keluarga. Semua itu tidak dirasakan oleh Paijah sebagai seorang istri yang mempunyai suami bernama Mat Kontan. Suaminya hanya sibuk dengan kegiatannya sendiri, main judi, bermain dengan pe...

Sekarya: Pathilo Sebagai Camilan dan Oleh-oleh Khas Gunungkidul

Gambar
Pathilo Sebagai Camilan dan Oleh-oleh Khas Gunungkidul Sumber: https://images.app.goo.gl/QVwKM1vfK5NNtRWg6     Kabupaten Gunungkidul merupakan salah satu daerah di Yogyakarta yang kaya akan hasil pertanian berupa singkong. Selain menanam padi dan palawija lainnya, para petani di Gunungkidul memanfaatkan musim penghujan hingga pertengahan musim kemarau untuk menanam singkong atau ubi kayu. Oleh karena itu, hasil singkong pada setiap musimnya selalu berlimpah.      Namun, dikarenakan saking banyaknya produksi singkong, harganya sendiri tergolong rendah di pasaran. Sementara itu, para petani tidak mungkin mengonsumsi singkong tersebut terus menerus. Hal ini menimbulkan inovasi baru dalam pengolahan singkong di Kabupaten Gunungkidul yang tujuan utamanya untuk menekan harga jualnya. Salah satu produk olahan asli Gunungkidul adalah camilan yang bernama Pathilo. Pathilo berasal dari kata ‘pathi’ yang berarti pati dan ‘lo’ yang berarti telo atau singkong dalam bahasa J...

Sekarya: Rumah Ramah sebagai Kepulangan Manusia pada Puisi “Sajak Sebelum Bapak Meninggal” Karya Hasta Indriyana

Gambar
Rumah Ramah sebagai Kepulangan Manusia pada Puisi  “Sajak Sebelum Bapak Meninggal” Karya Hasta Indriyana   Setiap nyawa yang menghuni raga manusia akan kembali pada Sang Pencipta. Namun sebelum itu, Tuhan membiarkan manusia memenuhi hidupnya di dunia untuk saling berbagi kasih kepada sesama. Menciptakan sebuah rumah nyaman yang menjadi tempat untuk menulis segala kisah dan cerita. Dan dari sanalah tercipta sebuah kedamaian yang penuh keharmonisan dan menjadi tempat paling nyaman untuk terus menetap bersama orang-orang yang terkasih dalam hidup. Namun, sebenarnya sebuah rumah pun memiliki pemaknaan yang jauh lebih mendalam daripada itu. Bagi seorang hamba yang taat, rumah hanyalah tempat berteduh sembari mengunduh bekal. Rumah-rumah pada dunia itu pun harus dihiasi lampu sebagai penerang jalan manusia berikutnya sebelum keberangkatannya menuju rumah yang sesungguhnya. Hal tersebut sebagai sedikit persiapan sebelum kepergian menuju kepulangan yang sempurna. Makna ini menyinggung...