Sekarsa: ??

 ??


Bahwa jika

Tatapan ini hanya menjurusmu

Seperti sorot kamera

Yang membidik objeknya. 

Terus terjatuh 

Bagai gerimis yang menyapa kota semalaman


Kamu seperti alunan elegi. 

Tak pernah diperdengarkan di sisi bumi mana pun 

yang pernah ku kinjungi. 

Karena dunia

bukan sepenuhnya milik kita


Maka, engkau adalah istimewa. Semesta sempurna

Untuk kejatuhanku


Pada musim kemuning aku sempat bertanya 

kepada raja siang yang nyaris tertidur.

Mengapa kita tidak dibiarkan saling membagi tawa?

Tidak bolehkan aku menggenggamnya jemarimu yang hangat itu sedikit lebih lama?


Lalu, batas senja jingga itu hanya mengembuskan angin.

Yang sepenuhnya membisu.

Dingin. Sepertinya memang belum ada 

Jawabannya. Atau mungkin memang tidak pernah ada

Jawabannya


Nyaris larut

Dengan berselimutkan sunyi aku berdiri. Tanpa suara

Rembulan pun hadir menertawaiku.


Bahkan untuk menunggumu pun, 

Apa aku juga tidak diperbolehkan?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sekarya: Analisis Naskah Drama “Malam Jahanam” karya Mottinggo Boesie

Sekarsa: Kembali

Sekarya: Ikatan di Gunung Kacangan