Sekarya: Ikatan di Gunung Kacangan
Ikatan di Gunung Kacangan
Folklor merupakan sebuah kumpulan budaya dan kultur dari sekelompok orang. Budaya tersebut termasuk tradisi baik yang berbentuk lisan, dongeng, serta legenda yang bersifat turun temurun. Danandjaja (1985:1) menjelaskan bahwa istilah folkrol berasal dari bahasa Inggris folklore yang memiliki dua kata dasar yakni folk dan lore. Folk memiliki makna sekumpulan orang yang memiliki ciri pengenalan fisik, sosial, serta kebudayaan tertentu sehingga terdapat pembeda antara kelompok satu dengan yang lainnya. Sementara itu, lore bermakna kebudayaan folk yang diwariskan dari generasi ke generasi melalui cerita lisan dan isyarat. Dari penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa pengertian folklor sendiri merupakan kebudayaan suatu masyarakat yang diwariskan turun-temurun secara tradisional baik dengan bahasa lisan ataupun dengan isyarat tertentu.
Di Indonesia banyak
sekali folklor berupa cerita rakyat yang begitu terkenal dan sering kali
dijadikan dongeng. Folklor sendiri tak hanya berfokus pada lapisan masyarakat tertentu.
Oleh karena itu obyek penelitian folklor bisa dari kalangan rakyat biasa hingga
bangsawan. Dari segi bahasa pun, folklor juga bisa untuk masyarakat Jawa,
Sunda, Ambon, dan banyak lagi. Jadi, konsep kemasyarakatan dalam folklor ini
bersifat universal untuk siapa saja.
Terdapat sebuah desa yang
terletak pada salah satu kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta, yakni
kabupaten Gunungkidul. Desa tersebut diberi nama “Gunung Kacangan”. Pemberian
nama yang sedemikian rupa bukanlah tanpa alasan, melainkan ada kisah unik
dibaliknya. Asal usul dari pemilihan nama tersebut berdasar pada cerita dari
para tetua desa yang sejak dahulu sudah tinggal di sana. Menurut Bapak Gunawan
(50), desa yang terlah berdiri lebih dari ratusan tahun itu dahulunya merupakan
daerah pedesaan yang memiliki banyak sekali gunung-gunung kecil. Di dekat
sebuah gunung berbatu, terdapat sebuah lubang yang sering masyarakat Jawa sebut
dengan “luweng”. Kemudian, ada seorang penambang batu yang hendak menutup
luweng tua tersebut menggunakan batu yang diambil dari gunung kecil di
dekatnya. Penambang batu tersebut mengumpulkan batu-batu yang ia dapatkan dari
gunung, kemudian mencari tali pengikat. Karena berada di hutan pegunungan,
penambang batu tersebut hanya menemukan sebuah tanaman rambat yang bernama
simbukan. Digunakanlah tanaman tersebut untuk mengikat batu. Penambang batu
tersebut pun menuruni gunung dengan memikul batu gunung yang berikatkan tanaman
simbukan. Namun, sebelum sampai di luweng, tanaman simbukan yang tak kuat
mengikat batu gunung pun putus. Si penambang batu merasa kesal dan marah. Menurut
cerita tersebut, desa itu kerap disebut dengan desa “Gunung Cancangan” atau
“Gunung Cencangan”. Kata “cancangan” atau “cencangan” ini berasal dari kata dalam bahasa
Jawa yang jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia berarti ikatan. Hal tersebut
merujuk kepada batu gunung yang diikat menggunakan tumbuhan simbukan oleh
penambang batu.
Hal yang sama disampaikan
pula oleh Bapak Kisno Widodo (83). Beliau turut memberikan pendapat bahwa
keberadaan desa Gunung Kacangan memiliki kisah yang unik. Selain itu, terdapat
bukti bahwa memang di desa Gunung Kacangan terdapat sebuah luweng besar yang
berada di dekat gunung-gunung kecil. Ibu Salinem (73) menambahkan bahwa sejak
dulu luweng tersebut seperti sumur yang tak pernah kering dan membuat tanah area
sekitarnya menjadi longsor, sehingga banyak sekali orang-orang yang berusaha
untuk menutupi tetapi selalu gagal.
Luweng Kalen, begitulah para masyarakat desa Gunung Kacangan menyebutnya.
Hingga hari ini luweng tersebut dibiarkan menjadi tempat resapan ketika musim
penghujan tiba. Lokasinya kini berada lebih rendah dari pemukiman desa karena
kerap longsor akibat banjir.
Warga sekitar
memercayai bahwa luweng tersebut terhubung langsung dengan laut dengan
kedalaman yang tak terhitung. Beberapa orang sekitar yang melewati jalan di
sekitarnya kerap mendengar suara gemercik air mengalir. Selain itu, tak sedikit
orang yang juga mengalami hal-hal mistis di sekitar luweng tersebut. Ibu
Salinem (73) turut mengatakan bahwa di sekitar luweng dihuni satu sosok makhluk
mistis berkepala kambing dengan tanduk yang besar. Sosok tersebut kerap
menjahili orang-orang yang hendak pergi ke pasar ketika dini hari. Suara-suara
aneh pun juga kerap di dengar di area tersebut dan kian menambah aura
mistisnya.
Selain sosok
makhluk berkepala kambing, beberapa orang juga pernah melihat sebuah ular
tinggi besar yang melingkar di tengah luweng. Namun, hal-hal mistis tersebut
menjadi rahasia umum bagi masyarakat desa Gunung Kacangan saja. Warga yang
tinggal di sekitar luweng pun sudah merasa terbiasa dan tidak terganggu karena
merasa bahwa keberadaan makhluk-makhluk tersebut tidak membahayakan. Sepanjang
sejarah desa, luweng tersebut tidak memakan korban jiwa. Masyarakat justru
menganggap keberadaan luweng tersebut sebagai hal yang istimewa yang memiliki
nilai uniknya sendiri.
Penamaan Gunung Cencangan yang berasal dari cerita luweng tersebut kemudian dikenal luas oleh masyarakat sekitar desa tersebut. Namun, Bapak Gunawan (50) mengimbuhi bahwa penyebutan kata “cencangan” ini sering menyulitkan pembicaranya. Lambat laun orang-orang lebih sering menggunakan kata “kacangan” daripada “cencangan”. Kemudian, desa tersebut terus dikenal dengan nama desa Gunung Kacangan hingga hari ini.
Cerita tentang penamaan desa Gunung Kacangan ini sudah ada sejak zaman dahulu oleh para orang tua dan sesepuh di desa. Kemudian, terus diceritakan turun-temurun kepada anak cucunya seperti sebuah dongeng jadul. Cerita ini juga menyiratkan tentang budaya-budaya orang zaman dahulu yang hidup di desa tersebut. Ditambah lagi dengan adanya lokasi seperti luweng dan gunung yang mampu membantu daya ingat cerita folklor desa Gunung Kacangan.
wahh sangat menambah wawasan
BalasHapus