Sekarya: Penggunaan Reduplikasi pada Karya Sastra Cerpen Berjudul “Gambar Perahu Layar di Dinding” Karya Chairil Gibran Ramadhan
Penggunaan Reduplikasi pada Karya Sastra Cerpen Berjudul “Gambar Perahu Layar di Dinding” Karya Chairil Gibran Ramadhan
Putri Meilia Sari
22201241012
e-mail: putrimeilia.2022@student.uny.ac.id
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan reduplikasi pada salah satu karya sastra berbentuk cerpen dengan judul “Gambar Perahu Layar di Dinding”y ang ditulis oleh Chairil Gibran Ramadhan. Metode penelitian yang digunakan yakni metode kualitatif deskriptif dengan objek kajian berupa cerpen. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan ditemukan beberapa proses reduplikasi yang ada pada cerpen yakni, 17 reduplikasi penuh, 3 reduplikasi sebagian, 12 reduplikasi engan pembubuhan, serta 1 reduplikasi dengan perubahan fonem. Keseluruhan reduplikasi yang ditemukan pada cerpen ada sebanyak 33 kata ulang.
Kata kunci: reduplikasi, cerpen, morfologi
LATAR BELAKANG
Cerpen merupakan salah satu bentuk karya sastra berbentuk prosa yang diciptakan penulis melalui pengalaman nyata atau imajinatif. Sebuah cerpen dibentuk melalui sarana-sarana sastra seperti tema, alur, latar, tokoh, dan lainnya. Tema yang diangkat dijabarkan pada paragraf-paragraf yang seluruhnya saling berkaitan. Dalam paragraf-paragraf tersebut terdapat tataran bahaya yang meliputi fonologi, morfologi, sintaksis, serta semantik. Keempatnya memiliki hubungan yang tentu saling berhubungan satu sama lain (Ristiani dan Nasucha, 2015).
Bahasa merupakan sebuah lambang bunyi yang bersifat arbitrer. Selain sebagai alat komunikasi sehari-hari, bahasa dapat dijadikan sebagai alat pelestarian budaya hingga menandakan identitas suatu suku atau bangsa tertentu. Melalui bahasa pula, seseorang dapat menyampaikan gagasan, ide pikiran, perasaan, informasi, dan dapat membangun hubungan sosial sesama manusia. Bahasa memiliki begitu banyak fungsi penting dalam kehidupan manusia, baik yang berbentuk lisan ataupun tulis.
Bahasa lisan merupakan bahasa yang dapat langsung dilafalkan menggunakan alat ujar manusia. Sedangkan, bahasa tulis harus melalui penulisan lambang-lambang bunyi yang berupa kata-kata. Pembentukan kata sendiri dikaji pada salah satu cabang ilmu linguistik yakni morfologi. Chaer (2003) mengungkapkan bahwa secara harfiah, morfologi dapat diartikan sebagai “ilmu tentang bentuk” yang mengkaji morfem dan kata.
Untuk membentuk kata yang sesuai dengan keinginan penutur, perlu adanya sebuah proses. Proses morfologi ini antara lain seperti afiksasi, reduplikasi, komposisi, morfofonemik, infleksi, abreviasi, serta derivasi. Berdasarkan beberapa proses tersebut, penelitian ini akan berfokus pada satu proses yakni reduplikasi. Menurut Arifin dan Junaiyah (2009) reduplikasi atau pengulangan merupakan salah satu proses morfologi yang mengubah sebuah leksem menjadi kata setelah mengalami proses pengulangan penuh, pengulangan sebagian, pengulangan dengan pembubuhan, serta pegulangan dengan perubahan fonem.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Mukhtar (2013) menjelaskan bahwa metode penelitian deskriptif kualitatif merupakan suatu metode untuk menemukan pengetahuan atau teori-teori tertentu terhadap penelitian tertentu. Adapun penggunaan metode penelitian deskriptif kualitatif ini bertujuan untuk menggambarkan, menjelaskan, menerangkan secara lebih rinci mengenai suatu objek yang diteliti yang hasilnya bersifat deskriptif. Subyek dari penelitian ini adalah cerpen yang berjudul “Gambar Perahu Layar di Dinding” Karya Chairil Gibran Ramadhan. Sementara itu, obyek dari penelitian ini adalah reduplikasi yang ada pada cerpen yang berjudul “Gambar Perahu Layar di Dinding” Karya Chairil Gibran Ramadhan.
Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah teknik simak. Teknik simak ini dilakukan dengan menyimak kebahasaan yang berbentuk tulisan pada cerpen berjudul “Gambar Perahu Layar di Dinding” Karya Chairil Gibran Ramadhan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari penelitian yang telah dilakukan, ditemukan sejumlah hasil berupa proses reduplikasi pada cerpen berjudul “Gambar Perahu Layar di Dinding” Karya Chairil Gibran Ramadhan, antara lain:
1. Reduplikasi penuh
Data 1
LAMPU-LAMPU di sepanjang lorong sudah dimatikan, bersama delapan kali bunyi sirene, seperti biasanya.
Lampu --> lampu-lampu
Kata lampu-lampu berasal dari bentuk kata dasar lampu. Bentuk dasar lampu mengalami proses reduplikasi penuh menjadi lampu-lampu. Kata dasar lampu merupakan jenis kata benda dan lampu-lampu juga jenis kata benda. Hal ini membuktikan bahwa proses reduplikasi penuh pada kata lampu tidak merubah kelas kata. Kata lampu-lampu pada data 1 dapat membentuk makna lain yakni: “Banyak lampu di sepanjang lorong sudah dimatikan, bersama delapan kali bunyi sirene, seperti biasanya.”
Data 2
Sebuah bola lampu yang tidak terlalu terang menyala di ujung lorong, di langit-langit atas meja tempat tujuh orang sipir duduk-duduk merokok dan melempar kartu.
Langit --> langit-langit
Kata langit-langit berasal dari bentuk kata dasar langit. Bentuk dasar langit mengalami proses reduplikasi penuh menjadi langit-langit. Kata dasar langit merupakan jenis kata benda dan langit-langit juga jenis kata benda. Hal ini membuktikan bahwa proses reduplikasi penuh pada kata langit tidak merubah kelas kata. Kata langit-langit pada data 2 dapat membentuk makna lain yakni: “Sebuah bola lampu yang tidak terlalu terang menyala di ujung lorong, di plafon atas meja tempat tujuh orang sipir duduk-duduk merokok dan melempar kartu.”
Data 3
Sebuah bola lampu yang tidak terlalu terang menyala di ujung lorong, di langit-langit atas meja tempat tujuh orang sipir duduk-duduk merokok dan melempar kartu.
Duduk --> duduk-duduk
Kata duduk-duduk berasal dari bentuk kata dasar duduk. Bentuk dasar duduk mengalami proses reduplikasi penuh menjadi duduk-duduk. Kata dasar duduk merupakan jenis kata kerja dan duduk-duduk juga jenis kata kerja. Hal ini membuktikan bahwa proses reduplikasi penuh pada kata duduk tidak merubah kelas kata. Kata duduk-duduk pada data 3 dapat membentuk makna lain yakni: “Sebuah bola lampu yang tidak terlalu terang menyala di ujung lorong, di langit-langit atas meja tempat tujuh orang sipir duduk santai merokok dan melempar kartu.”
Data 4
Angin masuk, nyamuk-nyamuk ada setiap waktu, tidak kami peduli.
Nyamuk --> nyamuk-nyamuk
Kata nyamuk-nyamuk berasal dari bentuk kata dasar nyamuk. Bentuk dasar nyamuk mengalami proses reduplikasi penuh menjadi nyamuk-nyamuk. Kata dasar nyamuk merupakan jenis kata benda dan nyamuk-nyamuk juga jenis kata benda. Hal ini membuktikan bahwa proses reduplikasi penuh pada kata nyamuk tidak merubah kelas kata. Kata nyamuk-nyamuk pada data 4 dapat membentuk makna lain yakni: “Angin masuk, para nyamuk ada setiap waktu, tidak kami peduli.”
Data 5
Kami hanya orang-orang yang ingin mendapat hidup lebih baik karena negeri kami dilanda kerusuhan berkepanjangan dan kelaparan.
Orang --> orang-orang
Kata orang-orang berasal dari bentuk kata dasar orang. Bentuk dasar orang mengalami proses reduplikasi penuh menjadi orang-orang. Kata dasar orang merupakan jenis kata benda dan orang-orang juga jenis kata benda. Hal ini membuktikan bahwa proses reduplikasi penuh pada kata orang tidak merubah kelas kata. Kata orang-orang pada data 5 dapat membentuk makna lain yakni: “Kami hanya sekumpulan orang yang ingin mendapat hidup lebih baik karena negeri kami dilanda kerusuhan berkepanjangan dan kelaparan.”
2. Reduplikasi sebagian
Data 1
Dia melongok, menyebut nama lelaki setengah umur itu ....
Kata lelaki pada data di atas termasuk pada proses reduplikasi sebagian karea bentuk kata dasarnya mengalami pengulangan namun hanya sebagian saja. Kata lelaki pada data 1 dapat membentuk makna lain yakni: “Dia melongok, menyebut nama laki-laki setengah umur itu ....”
Data 2
Dia setengah membentak, menjaga suaranya tidak memenuhi lorong, sampai ke telinga para sipir.
Kata memenuhi pada data di atas termasuk pada proses reduplikasi sebagian karea bentuk kata dasarnya mengalami pengulangan namun hanya sebagian saja. Kata memenuhi pada data 2 dapat membentuk makna lain yakni: “Dia setengah membentak, menjaga suaranya tidak terdengar di seluruh lorong, sampai ke telinga para sipir.”
Data 3
Kujual sepetak tanah di sebelah rumah gubukku (Marbun dan Karmin hanya menjual simpanan perhiasan emas, ditambah beberapa sapi dan kerbau milik mereka) ....
Kata beberapa pada data di atas termasuk pada proses reduplikasi sebagian karea bentuk kata dasarnya mengalami pengulangan namun hanya sebagian saja. Kata beberapa pada data 3 dapat membentuk makna lain yakni: “Kujual sepetak tanah di sebelah rumah gubukku (Marbun dan Karmin hanya menjual simpanan perhiasan emas, ditambah sejumlah sapi dan kerbau milik mereka) ....”
3. Reduplikasi dengan pembubuhan
Data 1
Tangan kirinya, menggenggam sebutir kerikil, terus bergerak, menggores-gores dinding hitam kusam, lembap dan berlumut, menggambar perahu layar.
Me(N) + gores = menggores --> menggores-gores
Kata menggores-gores pada data di atas termasuk pada proses reduplikasi dengan pembubuhan karenga mengalami reduplikasi yang berkombinasi dengan proses pembubuhan afiks me(N)- pada bentuk kata dasarnya. Kata menggores-gores pada data 1 dapat membentuk makna lain yakni: “Tangan kirinya, menggenggam sebutir kerikil, terus bergerak, berulang kali menggores dinding hitam kusam, lembap dan berlumut, menggambar perahu layar.”
Data 2
Kami maklum jika berbulan-bulan di dalam penjara membuat seseorang berpikiran macam-macam, tentang dirinya, dan tentang apa saja.
Ber + bulan = berbulan --> berbulan-bulan
Kata berbulan-bulan pada data di atas termasuk pada proses reduplikasi dengan pembubuhan karenga mengalami reduplikasi yang berkombinasi dengan proses pembubuhan afiks ber- pada bentuk kata dasarnya. Kata berbulan-bulan pada data 2 dapat membentuk makna lain yakni: “Kami maklum jika beberapa bulan lamanya di dalam penjara membuat seseorang berpikiran macam-macam, tentang dirinya, dan tentang apa saja.”
Data 3
Itu memang soal lain, meski itulah penyebab kami dijebloskan ke dalam penjara ini, katanya hanya untuk pendatang ilegal (untuk kata yang satu ini kami harus berhari-hari mencari tahu artinya) …
Ber + hari = berhari --> berhari-hari
Kata berhari-hari pada data di atas termasuk pada proses reduplikasi dengan pembubuhan karenga mengalami reduplikasi yang berkombinasi dengan proses pembubuhan afiks ber- pada bentuk kata dasarnya. Kata berhari-hari pada data 3 dapat membentuk makna lain yakni: “Itu memang soal lain, meski itulah penyebab kami dijebloskan ke dalam penjara ini, katanya hanya untuk pendatang ilegal (untuk kata yang satu ini kami harus menghabiskan banyak hari untuk mencari tahu artinya) ….”
Data 4
Maklumlah, selama berabad-abad nenek moyang mereka mengenal perbudakan.
Ber + abad = berabad --> berabad-abad
Kata berabad-abad pada data di atas termasuk pada proses reduplikasi dengan pembubuhan karenga mengalami reduplikasi yang berkombinasi dengan proses pembubuhan afiks ber- pada bentuk kata dasarnya. Kata berabad-abad pada data 4 dapat membentuk makna lain yakni: “Maklumlah, selama beberapa abad nenek moyang mereka mengenal perbudakan.”
Data 5
Tapi kalau-kalau mau terus-menerus hidup di dalam penjara ini, kurus kering, sakit-sakitan, dan akhirnya mati tanpa diketahui sanak saudara karena pihak penjara memang tidak pernah mengabari pihak luar untuk kematian pendatang haram seperti kita, silakan saja ikut saya.
Sakit --> sakit-sakit + -an = sakit-sakitan
Kata sakit-sakitan pada data di atas termasuk pada proses reduplikasi dengan pembubuhan karenga mengalami reduplikasi yang berkombinasi dengan proses pembubuhan afiks -an pada bentuk kata dasarnya. Kata sakit-sakitan pada data 5 dapat membentuk makna lain yakni: “Tapi kalau-kalau mau terus-menerus hidup di dalam penjara ini, kurus kering, terus mengalami sakit, dan akhirnya mati tanpa diketahui sanak saudara karena pihak penjara memang tidak pernah mengabari pihak luar untuk kematian pendatang haram seperti kita, silakan saja ikut saya.”
4. Reduplikasi dengan perubahan fonem
Data 1
Berhari-hari kami terombang-ambing di perahu layar penuh manusia, hanya berdoa yang kami lakukan, berharap Tuhan tidak menenggelamkan kami di lautan entah di mana ini.
Kata terombang-ambing pada data di atas memiliki bentuk kata dasar ombang dan termasuk pada proses reduplikasi dengan perubahan fonem. Kata terombang-ambing juga termasuk reduplikasi berprefiks karena adanya prefiks ter-. Kata terombang-ambing pada data 1 dapat membentuk makna lain yakni: “Berhari-hari kami terapung-apung di perahu layar penuh manusia, hanya berdoa yang kami lakukan, berharap Tuhan tidak menenggelamkan kami di lautan entah di mana ini.”
SIMPULAN
Berdasarkan analisis yang telah dilakukan pada cerpen yang berjudul “Gambar Perahu Layar di Dinding” Karya Chairil Gibran Ramadhan, banyak ditemukan proses reduplikasi pada bahasa tulisnya. Adapun proses reduplikasi yang ditemukan yakni 17 reduplikasi penuh, 3 reduplikasi sebagian, 12 reduplikasi dengan pembubuhan, serta 1 reduplikasi dengan perubahan fonem. Adapun makna dan arti dari kata ulang yang ada pada cerpen berjudul “Gambar Perahu Layar di Dinding” Karya Chairil Gibran Ramadhan ini bermacam-macam sesuai dengan proses reduplikasi yang dialaminya.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Zaenal dan Junaiyah. 2009. Morfologi (Bentuk, Makna, dan Fungsi). Jakarta: Grasindo.
Chaer, Abdul. 2003. Linguistik Umum. Jakarta:Rineka Cipta.
Mukhtar. 2013. Metode Praktis Penelitian Deskriptif Kualitatif. Jakarta: Referensi (GP Press Group
Prasetya, Kabul dan Qotri Wuquinnajah. 2022. “Analisis Reduplikasi dalam Cerpen Kejetit Karya Putu Wijaya”. JURNAL GENRE (Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya), Vol. 4, No. 1, pp. 1-10.
Ristiani dan Yakub Nasucha. 2015. Analisis Reduplikasi dalam Kumpulan Cerpen Mata Yang Enak Dipandang Karya Ahmad Tohari. Skripsi thesis, Universitas Muhammadiyah Surakarta.
sangat informatif sekali kak
BalasHapus