Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2023

Sekarya: Penggunaan Reduplikasi pada Karya Sastra Cerpen Berjudul “Gambar Perahu Layar di Dinding” Karya Chairil Gibran Ramadhan

 Penggunaan Reduplikasi pada Karya Sastra Cerpen Berjudul “Gambar Perahu Layar di Dinding” Karya Chairil Gibran Ramadhan Putri Meilia Sari 22201241012 e-mail: putrimeilia.2022@student.uny.ac.id Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan reduplikasi pada salah satu karya sastra berbentuk cerpen dengan judul “Gambar Perahu Layar di Dinding” y ang ditulis oleh Chairil Gibran Ramadhan. Metode penelitian yang digunakan ya kni metode kualitatif deskriptif dengan objek kajian berupa cerpen.  Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan ditemukan beberapa proses reduplikasi yang ada  pada cerpen yakni, 17 reduplikasi penuh, 3 reduplikasi sebagian, 12 reduplikasi  engan pembubuhan, serta 1 reduplikasi dengan perubahan fonem. Keseluruhan  reduplikasi yang ditemukan pada cerpen ada sebanyak 33 kata ulang. Kata kunci: reduplikasi, cerpen, morfologi LATAR BELAKANG Cerpen merupakan salah satu bentuk karya sastra berbentuk prosa yang diciptakan penu...

Sekarsa: Kembali

Gambar
 Kembali Dan kau kembali temukan Rumah pulang. Dengan kaki telanjang Melalui jalanan yang Tak bertuankan angan. Dan kau kembali temukan Rajutan benang senyuman Yang kusut kusam. Tak bersentuhan Dengan senyawa. Dan kau kembali temukan Detak jantung. Memburu Pun bersedia mati karena Bertaut dengan rasa angkuhnya. Dan kau kembali temukan Tumbuhan belukar. Yang layu Bermimik muka sayu Tanpa rasa malu.  Kau kembali dengan secarik puisi. Menjadikan senja yang tak berpenghuni Tenggelam mengabdi pada hening Melimbungkan diri Untuk menolak jatuh kepada patahan hati.

Sekarsa: ??

Gambar
 ?? Bahwa jika Tatapan ini hanya menjurusmu Seperti sorot kamera Yang membidik objeknya.  Terus terjatuh  Bagai gerimis yang menyapa kota semalaman Kamu seperti alunan elegi.  Tak pernah diperdengarkan di sisi bumi mana pun  yang pernah ku kinjungi.  Karena dunia bukan sepenuhnya milik kita Maka, engkau adalah istimewa. Semesta sempurna Untuk kejatuhanku Pada musim kemuning aku sempat bertanya  kepada raja siang yang nyaris tertidur. Mengapa kita tidak dibiarkan saling membagi tawa? Tidak bolehkan aku menggenggamnya jemarimu yang hangat itu sedikit lebih lama? Lalu, batas senja jingga itu hanya mengembuskan angin. Yang sepenuhnya membisu. Dingin. Sepertinya memang belum ada  Jawabannya. Atau mungkin memang tidak pernah ada Jawabannya Nyaris larut Dengan berselimutkan sunyi aku berdiri. Tanpa suara Rembulan pun hadir menertawaiku. Bahkan untuk menunggumu pun,  Apa aku juga tidak diperbolehkan?