Sekarya: Rumah Ramah sebagai Kepulangan Manusia pada Puisi “Sajak Sebelum Bapak Meninggal” Karya Hasta Indriyana
Rumah Ramah sebagai Kepulangan Manusia pada Puisi “Sajak Sebelum Bapak Meninggal” Karya Hasta Indriyana
Setiap nyawa yang menghuni raga manusia akan kembali pada Sang Pencipta. Namun sebelum itu, Tuhan membiarkan manusia memenuhi hidupnya di dunia untuk saling berbagi kasih kepada sesama. Menciptakan sebuah rumah nyaman yang menjadi tempat untuk menulis segala kisah dan cerita. Dan dari sanalah tercipta sebuah kedamaian yang penuh keharmonisan dan menjadi tempat paling nyaman untuk terus menetap bersama orang-orang yang terkasih dalam hidup. Namun, sebenarnya sebuah rumah pun memiliki pemaknaan yang jauh lebih mendalam daripada itu. Bagi seorang hamba yang taat, rumah hanyalah tempat berteduh sembari mengunduh bekal. Rumah-rumah pada dunia itu pun harus dihiasi lampu sebagai penerang jalan manusia berikutnya sebelum keberangkatannya menuju rumah yang sesungguhnya. Hal tersebut sebagai sedikit persiapan sebelum kepergian menuju kepulangan yang sempurna. Makna ini menyinggung puisi yang berjudul “Sajak Sebelum Bapak Meninggal” karya Hasta Indriyana pada baitnya yang pertama, berikut:
Sesaat sebelum berangkat, sepertinya
Tak ada lagi yang lupa dibawa. Mata
Pintu telah dikancingkan
Dalam bait tersebut menjelaskan bahwa
sesaat sebelum ajal menjemput manusia, tak perlu ada kesiapan untuk membawa
segala sesuatu yang dimiliki di dunia. Karena sebuah iman yang digenggam tidak
akan pernah terlupa dan akan selalu menemani manusia pada setiap langkahnya
baik di dunia hingga akhirat nantinya. Menjelaskan bahwa dengan menutupnya
mata, maka manusia sudah harus bersedia mati dengan membawa amal yang telah ia
kumpulkan di rumah dunianya. Serta dengan kepergiannya itu menjelaskan tentang
kesiapannya pergi dengan pintu rumah terkunci, di mana tak akan menjadi tempat
pulangnya kembali di kemudian hari. Manusia telah meninggalkan dunia ini dengan
keikhlasannya menuju sisi Illahi. Kemudian, disambung pada bait puisi kedua,
yang berbunyi:
“Ini puisi, kunci yang mesti ada
Di saku. Rumah yang ramah
Hanya bisa dibuka dengan niat dengan
Kalimat-kalimat dengan pepatah dengan
Lelaku yang lelah”
Dalam bait tersebut kata “puisi” mengacu
pada pemaknaan iman yang menjadi bekal manusia yang dibawanya dari dunia.
“Kunci yang mesti ada Di saku” merujuk pada alat pertolongan manusia di alam
baka. Imannya adalah kuncinya pada pintu surga. Sebuah alat yang jika manusia
tak memilikinya, maka akan celakalah ia. Jika tak ada iman, maka tak akan
didapatkannya sebuah rumah yang ramah, melainkan siksa yang mengundang lara.
“Hanya bisa dibuka dengan niat dengan Kalimat-kalimat dengan pepatah dengan
Lelaku yang lelah” mengartikan bahwa sebuah iman yang menjadi bekal tersebut
tak begitu saja mudah mendapatnya. Melainkan melalui perbuatan amal dengan niat
yang tulus, berbalut kalimat-kalimat terpuji, dan dilakukan dengan keikhlasan serta
kerendahan diri kepada Tuhan Sang Maha Pencipta. Dan apabila semua bekal pulang
kepada Tuhan sudah dipersiapkan dengan sempurna, maka tak ada lagi penyesalan.
Selaras dengan bait ketiga, yang berbunyi:
Tak ada kelebat. Daun waru
Tanggal ke tanah. Tak perlu haru
Setiap daun entah daun berwarna hijau atau
kemuning tak memerlukan pertanda untuk tanggal dari dahan dan jatuh menuju
tanah. Seperti halnya kematian manusia yang tak dapat dipungkiri datangnya.
Sesungguhnya manusia adalah sebuah nyawa yang paling dekat dengan kematian
serta jauh dari kekekalan duniawi. “Daun waru tanggal ke tanah” bermakna tak
perlu ada rasa sombong, meskipun hidup bermewah-mewah dengan kehidupan yang
megah, kematian pasti menghampiri tanpa dipungkiri. Digambarkan seperti daun
waru yang tumbuh di dahan tertinggi serta memiliki perawakan yang luas pun pada
akhirnya akan luruh, mengering, dan hirap pada tanah sewaktu-waktu. “Tak perlu
haru” mengartikan bahwa jika manusia telah bersusah payah mempersiapkan diri
pada hari kematiannya, maka tak perlu ada haru kesedihan. Ia telah berbekal,
maka tak perlu ada sesuatu yang dikhawatirkan. Rumah ramah surga itu akan
senantiasa mampu ia buka dengan kunci iman.
Sesaat sebelum mangkat, isyarat
Dapat dibaca seperti sajak genap
Yang meninggalkan bayang-bayang
Pada setiap nyawa yang diambil, sesaat
pasti akan mendapat kemudahan. “isyarat” dimaksudkan pada kalimat syahadat yang
menjadi kalimat terakhir sebelum penjemputan tiba. “Dapat dibaca seperti sajak
genap yang meninggalkan bayang-bayang” berarti bahwa setiap manusia beriman di
dalam akhir nafasnya akan mendapatkan kemudahan mengucap syahadat. Dengan
pertolongan iman, dua kalimat syahadat itu akan hadir seperti bayang-bayang
yang dapat dieja dengan begitu mudahnya seperti sajak yang genap. Maka, lekas
pergilah nyawa itu menuju awang-awang. Bersama embusan terakhir kalimat genap
syahadat yang menandakan keberangkatan manusia pada kepulangannya yang
sempurna.
Di dada, tangan mendekap penuh
Mata sajak telah terpejam luruh
Bait kelima ini menggambarkan tentang
akhir manusia yang kembali pada Tuhan dengan sikap ibadah. Tangan-tangan pucat
itu bersidekap selaras salat. Menampakkan diri terakhir di dunia sebelum
melebur pada tanah dengan sikap kecintaannya pada ibadah. “Mata sajak telah
terpejam luruh” mengartikan bahwa pejaman mata itu menandakan bahwa manusia
sudah tidak mampu melihat dan menciptakan sajak kisah baru di dunia karena
masanya sudah habis. Dengan mata yang terpejam, maka manusia akan luruh pada
tanah yang menciptakannya. Kemudian, kematian manusia yang penuh makna itu
menyadarkan penulis pada bait terakhir puisi, yang berbunyi:
Beginilah, sajak seperti selesai di ujung
Dan rampung. Aku mesti memulai
Menulis kata-kata, kata-kata kunci, dan
Rumah yang tak kutahu seperti apa
Bentuk pintunya
Setiap kematian adalah ujung. Kamatian
menandakan waktu yang sudah selesai. Entah rampung atau tidaknya tugas ibadah,
manusia memang harus sudah pulang menuju rumah sebenarnya. Ukiran-ukiran
kehidupan yang apabila belum terselesaikan pun harus tetap ditinggalkan oleh
manusia yang berpulang. “Aku mesti memulai” berarti bahwa melalui kematian
manusia yang terus terjadi setiap hari, harus tumbuh kesadaran pada diri sendiri
untuk memulai menata diri. Melengkapi setiap lakuna hidup yang belum ditemukan
artinya. Hal tersebut dimulai dengan pemaknaan mengenai rumah dan kehidupan di
dunia ini untuk mengumpulkan iman sebagai bekal untuk kekekalan di surga.
Melalui kematian, manusia harus mulai belajar mempersiapkan semuanya karena
setiap kunci akan membuka pintu yang berbeda. Pintu yang tak ada satu orang pun
yang mengetahui bagaimana perawakannya. Dan dengan kepastian mengenai ajal,
manusia yang tak bisa menebak hanya mampu bersiap dan berikhtiar dalam
jalan-Nya demi rumah ramah yang menantinya di ujung lelah.

Analisisnya sangat bagus dan lengkap
BalasHapusinterpretasinya masukk bgtt, ciee role model😜
BalasHapusmaknanya dalam banget ternyata
BalasHapus