Sekarya: Pathilo Sebagai Camilan dan Oleh-oleh Khas Gunungkidul

Pathilo Sebagai Camilan dan Oleh-oleh Khas Gunungkidul

Sumber: https://images.app.goo.gl/QVwKM1vfK5NNtRWg6


    Kabupaten Gunungkidul merupakan salah satu daerah di Yogyakarta yang kaya akan hasil pertanian berupa singkong. Selain menanam padi dan palawija lainnya, para petani di Gunungkidul memanfaatkan musim penghujan hingga pertengahan musim kemarau untuk menanam singkong atau ubi kayu. Oleh karena itu, hasil singkong pada setiap musimnya selalu berlimpah.

    Namun, dikarenakan saking banyaknya produksi singkong, harganya sendiri tergolong rendah di pasaran. Sementara itu, para petani tidak mungkin mengonsumsi singkong tersebut terus menerus. Hal ini menimbulkan inovasi baru dalam pengolahan singkong di Kabupaten Gunungkidul yang tujuan utamanya untuk menekan harga jualnya. Salah satu produk olahan asli Gunungkidul adalah camilan yang bernama Pathilo. Pathilo berasal dari kata ‘pathi’ yang berarti pati dan ‘lo’ yang berarti telo atau singkong dalam bahasa Jawa. Nama tersebut mungkin belum banyak diketahui oleh oran-orang, akan tetapi di Gunungkidul sendiri sudah terdapat banyak industri rumahan yang memproduksi Pathilo. Pembuatan Pathilo sendiri biasanya berskala besar hingga berton-ton dan membutuhkan tenaga yang cukup besar.

    Proses pembuatan Pathilo cukup panjang dan memakan waktu berhari-hari. Hal tersebut setara dengan harga jualnya yang menjadi lumayan tinggi dibandingkan dengan olahan singkong lainnya. Di Gunungkidul sendiri, 1 kilogram Pathilo dihargai kurang lebih Rp15.000,00. Harganya pun terus meningkat seiring dengan daerah pengirimannya yang semakin meluas hingga ke luar Gunungkidul.

    Berikut merupakan alat, bahan, dan langkah-langkah dalam pembuatan camilan khas Gunungkidul yakni Pathilo:

Alat:
1. Pisau
2. Sikat
3. Wadah/ember besar
4. Penggiling singkong
5. Cetakan Pathilo
6. Asang
7. Kuwali besar
8. Alat penyaring
9. Anjang bambu

Bahan:
1. Singkong
2. Pewarna makanan
3. Air
4. Garam
5. Penyedap rasa
6. Ketumbar
7. Kemiri
8. Bawang putih

Langkah pembuatan:
1. Kupas singkong dan hilangkan bagian keras/kayu pada ujung bawahnya dengan pisau.
2. Bersihkan singkong dan sikat setiap bagian yang kotor dengan air.
3. Giling singkong dengan mesim penggiling khusus hingga lembut dan tampung pada wadah/ember yang besar.
4. Tambahkan air secukupnya untuk membuat tekstur gilingan singkong menjadi lebih encer.
5. Saring dan peras gilingan singkong.
6. Simpan ampas singkong pada karung dan diamkan selama kurang lebih tiga hari tiga malam.
7. Diamkan air sisa saringan singkong yang semula putih hingga berwarna kekuningan. Proses ini dilakukan selama kurang lebih 3 jam setelah penyaringan.
8. Buang air bekas penyaringan dan akan ada pati singkong yang mengendap pada bawah ember.
9. Jemur pati dalam ember tersebut di bawah terik matahari hingga kering. Proses ini bisa dilakukan selama kurang lebih 2 hari untuk mendapatkan pati yang benar-benar kering.
10. Pati yang sudah kering kemudian dihancurkan dengan cara ditumbuk atau digiling hingga teksturnya halus seperti tepung.
11. Setelah 3 hari, buka ampas singkong yang semula disimpan pada karung.
12. Hancurkan ampas singkong yang semula menggumpal kemudian campurkan dengan tepung pati singkong pada satu wadah/ember.
13. Tambahkan bumbu halus untuk memberikan rasa gurih yang terdiri dari garam, ketumbar, penyedap rasa, kemiri, dan bawang putih.
14. Tambah air mendidih pada wadah/ember dan uleni ampas singkong dengan pati singkong hingga tercampur rata. Penambahan air dan proses pencampuran ini dilakukan hingga tekstur adonannya mudah untuk dicetak.
15. Adonan Pathilo yang sudah jadi akan berwarna putih. Namun, agar tampilannya lebih menarik, dapat juga diberi pewarna sesuai keinginan.
16. Adonan Pathilo siap dicetak dengan alat cetakan khusus dengan beralaskan asang.
17. Asang pun disusun hingga kurang lebih 10 tingkatan dan di setiap asangnya diberi pembatas berupa potongan bambu kecil agar tidak saling menempel satu dengan yang lainnya.
18. Susunan asang kemudian dimasukkan pada kuwali besar dan dikukus selama kurang lebih 10 menit.
19. Susunan asang pun diangkat dan Pathilo yang sudah matang diletakkan di atas anjang bambu satu per satu menggunakan spatula.
20. Anjang berisi Pathilo tersebut kemudian dijemur di bawah terik matahari hingga kering dan keras. Proses penjemuran ini dapat berlangsung selama sehari atau dua hari, tergantung dengan cuaca.
21. Pathilo yang sudah kering dapat dikemas dalam plastik yang siap dipasarkan.
22. Pathilo yang sudah kering dapat digoreng dengan minyak dan siap dikonsumsi.

    Di atas merupakan langkah pembuatan Pathilo, camilan khas Gunungkidul yang memiliki daya tarik tersendiri pagi para wisatawan luar daerah. Selain dijadikan camilan, Pathilo juga dijadikan sebagai teman makan yang rasanya spesial. Jika berkunjung ke Kabupaten Gunungkidul, akan kurang rasanya apabila tidak mencoba makanan unik yang satu ini.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sekarya: Analisis Naskah Drama “Malam Jahanam” karya Mottinggo Boesie

Sekarsa: Kembali

Sekarya: Ikatan di Gunung Kacangan