Sekarya: Analisis Naskah Drama “Malam Jahanam” karya Mottinggo Boesie

Analisis  Naskah Drama “Malam Jahanam” karya Mottinggo Boesie


  • Sinopsis Drama “Malam Jahanam” karya Mottinggo Boesie
Dalam naskah drama Malam Jahanam karya Mottinggo Boesie menceritakan bagaimana seorang keluarga yang hidup dengan konflik-konflik. Seorang suami yang hanya mementingkan dirinya dan hobi tanpa menghiraukan keluarga yang ada di rumah. Istri dan anak semata wayang yang berada di rumah juga perlu akan perhatian dan kasih sayang dari seorang kepala keluarga. Seorang istri tak mampu sendiri berdiri dalam menopang kehidupan keluarga, ia akan pincang dalam melalui kehidupan di dunia ini jika tidak adanya pendamping hidup, namun apa gunanya bila daya itu ada, mempunyai seorang suami yang banyak diharap akan dapat memberikan apa yang diharapkan terutama dalam cinta dan kasih sayang dalam keluarga. Semua itu tidak dirasakan oleh Paijah sebagai seorang istri yang mempunyai suami bernama Mat Kontan. Suaminya hanya sibuk dengan kegiatannya sendiri, main judi, bermain dengan peliharaan kesayangannya yaitu burung beo dan perkututnya. Ia rela melakukan dan mengeluarkan kocek berapa pun demi hobinya itu, sedangkan istri dan anak ditelantarkan bagaikan tidak ada yang memilikinya. Ketika anaknya sedang sakit keras Mat Kontan pun tidak memedulikan kesehatan anaknya itu, ia hanya beranggapan bahwa nanti anaknya akan sembuh dengan sendirinya. Ia pun tetap sibuk dengan mengurusi burung perkutut yang baru dibelinya dari hasil menang judi dan menjual hasil ikannya. Ia menceritakan tentang kehebatan burungnya itu kepada sahabatnya Soleman, bahwa burungnya adalah burung termahal melebihi harga sebuah mobil. Soleman yang merasakan akan kurangnya perhatian Mat Kontan kepada Istri dan anaknya menegur dan menasihati dia agar selalu memerhatikan keluarganya dari pada peliharaan dan hobinya itu berkumpul dan bermain judi dengan teman-temannya. Mat Kontan hanya mendengar dengan sekilas tanpa memedulikan omongan Soleman itu ia bangga akan kehidupannya selama ini dan tak mau seorang pun mengganggunya.

Apa yang seharusnya tidak terjadi, namun akhirnya itu berubah menjadi kenyataan dan mau tidak mau memang harus diterimanya walaupun sepahit apa pun kenyataan itu. Paijah yang kecewa atas perlakuan dan sikap suaminya pun beralih ke Soleman yang merupakan tetangganya ia mencurahkan isi perasaan dan apa yang dirasakannya selama ini dari perilaku suaminya. Perasaan yang tidak dirasakan oleh Soleman karena selama ini ia sendiri dan tidak merasakan apa yang dirasakan oleh lelaki yang sudah berpasangan maupun yang telah mempunyai istri, ia mengagumi sosok Paijah yang merupakan istri sahabatnya Mat Kontan. Kejadian yang tak diharapkan itu pun datang akibat percintaan yang terlarang dan malam jahanam pun itu akan tiba saatnya menuntut pertanggung jawaban dari apa yang telah dilakukan, karena sesuatu yang telah kita lakukan harus dipertanggung jawabkan sesuai dengan apa yang kita perbuat.

Sampai akhirnya terjadilah hari yang tidak dinginkan itu, ketika Mat Kontan mengetahui burung beo kesayangannya telah mati, ia sangat sedih dan dendam akan kematian burung beo kesayangannya itu. Burung yang beberapa belakangan ini yang dia ketahui baru bisa berbicara itu. Ia terpukul atas kejadian hilang dan matinya burung kesayangannya itu lalu ia mencari tahu siapa yang telah membunuh burung kesayangannya itu dengan mengiris lehernya. Paijah yang ketakutan akan perilaku suaminya itu pun sangat takut dengan sikap suaminya, ia takut suaminya melukai dirinya dan anaknya karena kejadian kematian burungnya itu. Paijah pun meminta perlindungan kepada Soleman agar menjaganya dari kegilaan suaminya akan kehilangan burung beonya itu. Soleman yang tidak takut akan sikap dan perilaku Mat Kontan yang brutal itu, ia berani menghadapi kegilaan Mat Kontan dan berjanji akan melindungi Paijah dari suaminya itu jika di berbuat macam-macam dan menyakiti dirinya. Kedatangan Mat Kontan menemui Soleman pun sudah diduga sebelumnya oleh dirinya, Mat kontan datang menemui Soleman ketika ia tidak berhasil menanyakan kepada tukang nujum siapa yang telah membunuh burung beonya. Ia pun menceritakan masalah yang dihadapinya kepada Soleman. Kecurigaan Mat Kontan pun mengarah kepada istrinya, ia menduga bahwa istrinya yang telah membunuh beonya itu, ketakutan Paijah pun menjadi kenyataan, suaminya mendesak Paijah untuk mengatakan siapa yang telah membunuh beonya. Akhirnya setelah percekcokan sengit yang terjadi antara Paijah dan Mat Kontan, Soleman pun mengakui perbuatannya yang telah membunuh burung beo itu, Mat Kontan yang terkejut pun tak habis pikir tentang yang dilakukan sahabatnya itu. Dan yang lebih mengejutkan lagi pengakuan akan hubungan Soleman dengan istrinya. Soleman mengakui bahwa anak yang dilahirkan dari rahim Paijah adalah hasil hubungannya selama ini dengan Paijah, karena Mat Kontan yang jarang pulang dan meninggalkan istrinya seorang diri dan kemudian terjadilah hubungan itu.

Mat Kontan yang tidak bisa menerima kenyataan itu. Ia juga tidak bisa berbuat banyak kepada Soleman, bukan karena ia sahabatnya melainkan juga ia yang telah menolong dirinya ketika dirinya hampir tenggelam dalam pasir hidup. Mat Kontan seperti berhutang budi kepada Soleman sehingga tidak bisa mengayunkan goloknya ke diri Soleman. Akhir cerita anak Paijah mati karena sakit keras dan tidak dibawa ke rumah sakit, Paijah sangat kehilangan anak kesayangannya itu buah hati percintaannya dengan Soleman yang entah menghilang ke mana setelah kejadian pada malam jahanam itu.
  • Analisis Naskah Drama
    • Tema
Tema Malam Jahanam adalah sisi buruk dan baik manusia. Dalam drama ini, kita bisa melihat sisi buruk manusia melalui Mat Kontan yang tidak menghargai orang lain, Paijah yang berselingkuh dengan Soleman, serta Soleman yang berhubungan istri teman dekatnya sendiri. Sisi baik manusia dapat kita lihat pada kelembutan hati Paijah terhadap anaknya serta Soleman yang mengakui kesalahannya pada Mat Kontan. Perselingkuhan juga diangkat dalam drama ini, yaitu perselingkuhan antara Paijah dengan Soleman.
    • Tokoh dan penokohan
a. Mat Kontan : Mat Kontan adalah seorang pria dewasa yang telah memiliki seorang istri dan juga seorang anak. Selain itu, Mat Kontan juga seorang yang sombong, angkuh, penakut, egois, emosional, dan sok tahu, Mat Kontan juga termasuk orang yang lari dari kenyataan.

b. Paijah : Paijah adalah seorang wanita yang telah bersuami dan memiliki seorang anak yang masih bayi. Paijah seorang wanita yang berwatak pencemas dan tidak setia.

c. Soleman : Soleman adalah seorang pria yang belum menikah yang tinggal di seberang rumah Mat Kontan dan Paijah . Soleman juga adalah sahabat dari Mat Kontan. Soleman seorang pria yang berwatak pengecut, besar mulut, dan pembual.

d. Utai : Utai adalah seorang pria yang sangat bergantung terhadap Mat Kontan, untuk merokok saja sangat mengharap uluran dari Mat Kontan. Utai seorang pria yang berwatak setia dan selalu mengharap pemberian dari Mat Kontan.

e. Tukang Pijat : Tukang Pijat ini adalah seorang pria yang kira-kira sudah tua juga seorang tuna netra (buta), Tukang Pijat ini sering melintas di sekitar rumah Soleman dan Mat Kontan sambil menyeret kaleng bekas susu. Menurut saya, Tukang Pijat ini berwatak selalu ingin tahu suatu permasalahan.
    • Alur
Alur Malam Jahanam menggunakan alur maju, yaitu peristiwa yang dialami oleh tokoh cerita tersusun menurut urutan waktu terjadinya secara berurutan. Alur ini berlangsung secara continue dan memuncak.
    • Latar
a. Latar tempat : perkampungan nelayan, depan rumah.
b. Latar waktu : sore, petang, malam.
c. Latar sosial : lingkungan para pelayan yang hidup dalam kemiskinan.
d. Latar suasana : marah, haru, khawatir, mendesak, mencekam, sepi.
    • Amanat
Amanat dari naskah drama Malam Jahanam adalah kita harus dapat menghargai orang lain. Mat Kontan yang kurang menghargai Paijah dan Soleman akhirnya dikhianati oleh mereka. Kita juga harus bertanggung jawab akan semua yang telah kita lakukan walaupun akan berdampak buruk bagi kita. Seperti halnya Paijah dan Soleman yang mengakui kesalahan mereka dan harus bersedia menanggung akibatnya.

Amanat lainnya adalah orang yang lemah akan selalu menjadi korban. Amanat ini dapat kita ambil dari Utai. Dia setia terhadap Mat Kontan, tetapi harus menjadi korban dan meninggal ketika melawan Soleman demi Mat Kontan. Korban yang lebih malang lagi adalah Mat Kontan Kecil, bayi yang lemah dan tidak berdaya, yang meninggal akibat keteledoran dan keegoisan orang tuanya.

Amanat yang tidak kalah pentingnya adalah tentang kesetiaan. Seorang istri seharusnya setia kepada suaminya dan berkompromi mengenai kekurangan mereka masing-masing.
  • Komentar
Naskah drama dengan judul Malam Jahanam ini ini mengajarkan banyak hal-hal berharga dalam kehidupan rumah tangga. Bisa dilihat dari hubungan antara Mat Kontan dengan Paijah yang meski terikat dalam hubungan suami istri, namun keduanya sebenarnya hidup dalam hubungan yang tidak akur. Ini memberikan pelajaran bahwa dalam hubungan pernikahan sangat diperlukan hubungan yang harmonis antara satu dengan yang lainnya sehingga akan tercipta sebuah keluarga yang bahagia. Naskah drama ini juga mengajarkan kita semua tentang sebuah kesetiaan antara hubungan pertemanan Suleman dengan Mat Kontan. Seorang kawan baik tentunya tidak akan menghianati kawannya dengan berselingkuh bersama istrinya. Dari sini perlu adanya saling kejujuran antara satu dengan yang lainnya.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sekarsa: Kembali

Sekarya: Ikatan di Gunung Kacangan