Sekarsa: Semesta dalam Cinta
Setiap hari pasti ada saja suatu hal yang melibatkan hati. Apalagi kalau hari senin ada kelas pagi terus ditambah lagi presentasi. Pasti bukan hanya capek di pikiran, tapi di hati juga kan? Akan ada setitik kekesalan yang membuat hari indahmu menjadi muram. Tapi, jangan terus berkecil hati, ya. Yakinlah, bahwa besok akan terasa lebih baik.
Omong-omong tentang hati, pasti kita (remaja-remaja) tidak akan lari jauh dari masalah perasaan. Umur segini kalau enggak bucin-bucinan, ya pasti galau-galauan. Yahhh, masalah-masalah percintaan seperti itu memang banyak mewarnai kehidupan kita. Entah itu menjatuhkan hati pada seseorang yang salah, mencintai sahabat sendiri, mencintai seseorang dalam diam, LDR sama pacar, sampai istilah baru yang akhir-akhir ini sedang ngetrend, yakni HTS. Sepertinya dari sekian masalah percintaan tadi, hubungan tanpa status ini yang paling bikin galau, ya. Tapi, jangan sampai lupa untuk mencintai dirimu sendiri juga loh.
Mencintai menandakan bahwa kamu berani memberikan hatimu pada seseorang. Dan dengan mencintai berarti kamu telah menggantungkan kebahagiaanmu sendiri pada seseorang itu. Seseorang yang telah kamu jadikan rumah untuk teman berbicara, berkeluh kesah, berbagi tawa begitupun duka. Tapi, apakah kamu lupa bahwa ada rumus kehidupan yang mengatakan bahwa ‘people come and go’? Jika seseorang yang kamu cintai itu pergi, ya sudah, mungkin kebahagiaanmu akan turut hilang bersamanya. Dan perasaan-perasaan gembira yang sudah kalian ciptakan akan berubah menjadi segaris kenangan. Meski tak dapat dipungkiri bahwa dia tetap menjadi pemenang hatimu, sekalipun kamu telah ditinggalkan. Tapi jika kamu bisa, kamu harus mencari kebahagiaan baru yang lebih dari hari kemarin. Jangan jadikan rindu sebagai belenggu. Selalu ada cara untuk melupakan dan mengikhlaskan kepergian.
Ada pepatah mengatakan “mencintai tak harus saling memiliki”. Aku tahu, kata itu sangat menyakitkan. Siapa sih yang tidak ingin memiliki seseorang yang kita cintai? Karena perasaan tak dapat dibohongi, kepuasan perasaan cinta pastinya untuk berakhir saling memiliki. Tapi, memang seperti itulah pahitnya cinta. Kita terkadang menyukai seseorang, suka hingga bukan kepalang, jatuh hati yang sungguh jatuh sejatuh-jatuhnya, namun berakhir pupus dan tak bisa memilikinya. Perasaan tulus pun tak menjamin cinta dapat berbalas. Semesta tak bisa semudah itu mempertemukan aku dan kamu. Mungkin alasannya karena kita bukanlah keseimbangan sejati. Dan dari hal itu dapat mengajarkan bahwa, mencintai sepihak berarti kita harus berani berbesar hati. Dan sebenarnya, mencintai itu juga berarti menghargai orang lain, bukan justru ingin mengikatnya menjadi kepemilikan.
Mungkin, definisi dari ‘orang kesukaan’ juga mampu berubah seiring berjalannya waktu. Tak jarang kita menyebut orang kesukaan kita sebagai rumah. Rumah yang memberikan kenyamanan dan kehangatan paling absolut bagi diri kita. Meski kamu tak bisa mengatakan bahwa rumah itu milikmu, namun kamu bisa bebas singgah di sana. Kamu bisa menghabiskan waktu sepanjang harimu untuk saling berbagi tawa dan kegembiraan. Atau sekedar mengisi duniamu dengan warna-warna cerah yang sebelumnya tak kamu dapatkan.
Namun, jika rumah itu juga menerima tamu lain, apakah kamu masih akan tetap bermain di sana? Jika tamu itu memutuskan menjadi penghuni tetap, lalu kamu akan bagaimana? Tuan rumah pasti memiliki kuasa mutlak. Ketika ia sudah membuka pintu untuk tamu lain. Maka, tak ada lagi tujuanmu pulang. Rumah singgah itu telah diambil orang lain. Jadi, cintailai ia sebagaimana cukup, agar hatimu tak menjadi patah kemudiannya.
Teruntuk kamu yang saat ini tengah mencintai: jangan padamkan perasaan itu hanya karena takut patah hati. Karena sesuatu yang sakit, pasti bisa sembuh di kemudian hari.
Untuk kamu yang saat ini masih menunggu: terima kasih karena sudah bertahan sampai sekarang. Jika sudah lelah memendam rasa sendirian, coba ungkapkanlah pada si dia. Segera temuilah kejelasan, karena perasaan cinta hanya memiliki dua kemungkinan, yakni ada atau tiada.
Untuk kamu yang rumahnya dihuni orang lain: melangkahlah pergi saja. Telusurilah seluruh jalan hingga kamu menemukan sebuah rumah baru yang siap membukakakan pintu lebar-lebar dan merayakan kedatanganmu.
Dan untuk kamu yang telah kehilangannya: ketahuilah bahwa bulan tak bisa bersinar ketika matahari menyandingnya di siang hari. Namun ketika purnama, ia justru dipuja sejuta gemintang di seluruh penjuru semesta.
Banyak yang sebenarnya mencintaimu, kamu hanya perlu sedikit membuka mata. Dan sadarilah bahwa, cinta tak hanya mengandung sakit dan bahagia. Cinta … ia lebih daripada rasa. Bagi remaja, cinta adalah sebuah semesta.
buat yang lagi jatuh cinta harus liat tulisan ini!!!
BalasHapus