Sekarya: Analisis Psikologi Film Taare Zameen Par


Analisis Psikologi Film Taare Zameen Par


A.    Sinopsis Film Taare Zameen Par

Film Taare Zameen Par yang dirilis tahun 2007 ini menceritakan tentang seorang anak laki-laki berusia delapan tahun bernama Ishaan yang mengalami disleksia. Ishaan merupakan anak kedua dari sepasang suami istri yang masih duduk di kelas 3 karena tidak naik kelas pada tahun sebelumnya. Ishaan terlihat sedikit berbeda dengan teman sekelasnya yang lain. Ia mengalami kesulitan dalam belajar, seperti sulit membaca, menulis, dan berhitung. Hal tersebut berbeda dengan kakaknya yang bernama Yohan yang merupakan siswa pandai dan selalu mendapat juara satu. Guru-guru yang ada di sekolah Ishaan menganggapnya bodoh dan malas belajar. Mereka merasa tak percaya bahwa Ishaan merupakan adik dari siswa yang pandai seperti Yohan. Namun, di luar itu Ishaan sebenarnya adalah seorang anak yang penuh dengan imajinasi. Saat proses pembelajaran pun Ishaan kesulitan mengikuti arahan dari guru sehingga ia dikeluarkan dari kelas karena dianggap hanya bermain-main saja saat belajar. Nilai-nilai pelajaran yang Ishaan dapatkan selalu jauh dari kata baik bahkan Ishaan mendapat nilai nol di saat ujiannya. Hal tersebut selalu membuat Ishaan dimarahi oleh guru maupun orang tuanya di rumah.

Pada suatu hari Ishaan tidak mengerjakan pekerjaan rumah matematikanya, karena takut dimarahi guru ia pun memutuskan untuk membolos. Hal itu diketahui oleh ayahnya sehingga membuat ia marah. Ayah dan ibu Ishaan mendatangi sekolah dan bertemu dengan guru serta kepala sekolah tempat Ishaan menuntut ilmu. Para guru berkata bahwa tidak ada perkembangan akademik yang dialami oleh Ishaan. Kemampuannya sama saja dengan tahun lalu dan bisa saja Ishaan tidak naik kelas lagi tahun ini. Kepala sekolah berkata jika Ishaan tidak mampu berkembang lagi, maka ia harus dikeluarkan dari sekolah. Kepala sekolah tersebut juga berkata bahwa, mungkin keadaan Ishaan tersebut dikarenakan ia memiliki kelainan dibandingkan anak-anak biasa seusianya. Ayah Ishaan pun merasa tersinggung dengan perkataan ibu kepala sekolah tersebut. Saat sesampainya di rumah, ayah Ishaan memutuskan untuk memindahkan Ishaan ke sekolah baru yaitu sekolah asrama. Ishaan tentu saja menolak keras kehendak sang ayah karena ia tak mau berpisah dengan keluarganya tersebut. Ibu dan kakaknya juga tak ingin berpisah jauh dari Ishaan, namun keputusan ayah tidak dapat dibantah lagi. Ishaan pun pergi ke sekolah asrama setelah perayaan Dipawali atau hari perayaan kembang api.

Dengan penuh perasaan sedih dan haru, Ishaan akhirnya berpisah dengan keluarganya dan tinggal di sekolah asrama barunya. Suasana sekolah barunya sedikit berbeda. Ishaan mendapat teman baru sebangku yang bernama Rajan yang merupakan siswa paling pintar dan yang selalu datang paling awal ketika kelas akan dimulai. Sifat guru di sekolah baru Ishaan tak berbeda jauh dengan sekolah lamanya. Mereka kerap membentak dan memarahi Ishaan dan menyuruhnya keluar dari kelas jika melakukan kesalahan. Ishaan merasa lelah dengan semua kejadian yang ia alami dan ia hanya bisa menangis. Orang tuanya selalu mengunjungi Ishaan setiap akhir pekan. Saat itu suasana hati Ishaan sedang tidak baik, ia bahkan hanya diam dan menangis ketika keluarganya berkunjung dan mengajaknya pergi liburan. Ishaan merasa sendiri dan ditinggalkan ketika melihat ayahnya yang asyik bermain tenis lapangan bersama kakaknya. Kesedihan itu tak juga berhenti bahkan ketika ia harus kembali ke asrama untuk sekolah.

Pada suatu hari, Rajan berkata pada Ishaan bahwa guru seni mereka pindah ke luar negeri. Untuk saat ini kelas mereka memiliki guru sementara yang bernama Ram Nikumbh. Guru-guru lain memanggilnya dengan nama Nikumbh. Ia adalah seorang yang mengajar juga di sekolah anak-anak cacat dan keterbelakangan mental. Nikumbh merupakan seorang guru seni yang selalu membiarkan murid-murid didiknya bebas berekspresi dalam seni. Ia memiliki prinsip bahwa jika anak-anak bahagia, maka ia juga bahagia. Pada saat pelajaran melukis, Nikumbh menyadari sesuatu pada diri Ishaan. Ia melihat Ishaan dengan penuh rasa heran karena hanya Ishaan saja yang tak mau melukis apapun di buku gambarnya. Ishaan tak banyak bicara, namun Nikumbh bisa melihat bahwa dalam tatapan mata Ishaan selalu tersirat rasa ketakutan. Hal itu membuat Nikumbh merasa sangat penasaran dengan Ishaan dan ia pun mulai mencari buku-buku pelajaran milik Ishaan. Nikumbh menemukan bahwa banyak sekali coretan merah pada buku milik Ishaan. Dari sanalah Nikumbh menyadari bahwa alasan mengapa Ishaan kesulitan belajar seperti anak-anak lain adalah karena suatu ganguan yang dialami oleh Ishaan. Gangguan itu disebut disleksia yang merupakan gangguan yang dialami oleh seorang anak dalam proses belajar seperti kesulitan menulis, membaca, dan mengeja. Nikumbh merasa terharu dan sedih mengetahui apa yang sebenarnya tengah dialami oleh muridnya yaitu Ishaan.

Setelah mengetahui hal tersebut, Nikumbh memutuskan pergi ke kota untuk menemui keluarga Ishaan. Ketika bertemu ayah dan ibu Ishaan, Nikumbh berusaha menjelaskan tentang gangguan yang dialami oleh anak mereka, namun tetap saja ayah Ishaan tidak mau mengerti tentang hal tersebut. Nikumbh pun memutuskan kembali ke sekolah asrama dengan membawa beberapa gambar dan lukisan karya Ishaan sebelumnya. Di sekolah, Nikumbh berusaha memberitahu kepala sekolah tentang gangguan yang dialami oleh Ishaan yang menyebabkan ia terlihat berbeda dengan anak-anak yang lain. Sejak saat itu, Nikumbh selalu menemani Ishaan dan mengajarinya segala sesuai dengan pelan-pelan. Ishaan mulai mendapatkan tawanya kembali dan mau bermain dengan teman-teman yang lainnya. Kian hari Ishaan sudah mampu menulis, membaca, dan mengeja berkat bantuan dari Nikumbh yang penuh dengan kasih sayang.

Nikumbh memasang sebuah poster di sekolah dimana tertulis bahwa akan diadakan lomba melukis yang boleh diikuti oleh siswa maupun guru di sekolah. Pada suatu ketika ayah Ishaan mendatangi Nikumbh dan mengatakan bahwa ia dan istrinya telah mengetahui tentang arti dari disleksia yang dialami oleh Ishaan. Ketika hendak pulang, ayah Ishaan melihat Ishaan yang tengah berusaha membaca dengan mengeja poster lomba melukis yang dibuat oleh Nikumbh. Ia merasa terharu dan bersalah mengingat perlakuannya kepada anaknya tersebut.

Banyak sekali guru dan siswa yang berpartisipasi dan mengikuti lomba melukis. Nikumbh berharap Ishaan juga mengikuti acara lomba tersebut. Namun, Nikumbh dibuat cemas karena ia tak melihat keberadaan Ishaan sepanjang acara. Hingga di tengah-tengah acara lomba berlangsung, Ishaan muncung dengan penampilannya yang rapi. Nikumbh segera memberinya selembar kertas gambar dan membiarkan Ishaan berimajinasi dalam karya lukisannya itu. Saat sesi pengumuman pemenang, semua orang tampak gembira. Hingga ketika nama Ishaan disebut karena menjadi pemenang, semua orang pun bersorak dengan gembira untuk Ishaan. Dengan penuh rasa haru, Ishaan maju ke depan untuk menerima hadiahnya. Ishaan memeluk Nikumbh dengan tangisan bahagia yang tak bisa dibendung lagi.

Pada liburan musim panas, keluarga Ishaan menjemput Ishaan di sekolah. Ishaan sudah tampak berbeda dengan dirinya yang sebelumnya pendiam dan murung. Ishaan kini lebih banyak tertawa, tentu saja dikarenakan kedua orang tuanya yang kini lebih menyayanginya. Hal tersebut tak terlepas dari jasa Nikumbh yang telah membantu Ishaan berubah dan membantunya menyembuhkan gangguan disleksia yang dialaminya. Film Taare Zameen Par pun berakhir dengan bahagia.

 

B.     Analisis Film Taare Zameen Par

a)      Kesulitan belajar serta contoh perilaku yang muncul dalam film Taare Zameen Par

Bentuk kesulitan belajar yang muncul dan menjadi permasalahan dalam film Taare Zameen Par yakni berupa gangguan belajar disleksia. Di mana kesulitan belajar ini merupakan permasalahan yang mengganggu bagaimana cara anak dalam memahami bahasa lisan maupun tulisan. Gangguan tersebut dapat berupa seperti kesulitan berpikir, membaca, menulis, menghitung, serta mengeja yang berlangsung dalam proses belajar anak.

Perilaku gangguan disleksia ini ditunjukkan oleh tokoh Ishaan, di mana ia merupakan seorang anak yang mengalami kesulitan belajar bahasa tulisan dan lisan seperti menulis, membaca, dan menghitung. Contohnya ketika Ishaan diperintahkan oleh guru untuk membaca sebuah paragraf dalam bahasa Inggris namun Ishaan mengalami kesulitan dalam mengeja huruf dan membacanya. Contoh lain terdapat pada buku-buku pelajaran milik Ishaan, di mana banyak kesalahan dalam penulisan hurufnya yang membuat susunan katanya tidak benar. Ishaan kesulitan membedakan huruf yang sama seperti perbedaan ‘b’ dan ‘d’, ‘a’ dan ‘e’, ‘t’ dan ‘h’ dan lainnya.

Permasalahan gangguan disleksia ini pada akhirnya memengaruhi perkembangan akademik Ishaan yang berupa nilai rendah hingga kemampuan baca tulis yang juga tak berkembang layaknya anak seusianya. Hal tersebut membuat motivasi belajar yang dimiliki Ishaan juga rendah. Nilai akademis yang rendah yang membuat orang tuanya marah juga memengaruhi tingkat emosi dalam diri Ishaan. Karena sering dibentak dan dimarahi Ishaan juga mengalami gangguan pada emosi dan perilakunya. Contoh perilaku yang terdapat pada film yakni ketika Ishaan yang ketakutan dan menangis karena dimarahi oleh guru. Contoh lain yakni Ishaan yang terlihat pendiam dan murung karena mulai menyadari perbedaan dalam dirinya yang tidak memiliki kemampuan dalam belajar.

b)     Masalah pendidikan lainnya yang berkaitan dengan materi pertemuan 1 – 5 mata kuliah psikologi pendidikan

1.      Perkembangan kognitif dan bahasa

Ishaan merupakan seorang anak yang mengalami disleksia. Disleksia tersebut membuat Ishaan mengalami kesulitan dalam belajar seperti sulit membaca, mengeja, dan berhitung. Hal tersebut disebabkan pula karena otak tak mampu berfungsi secara semestinya dalam menangkap dan mengolah segala bentuk informasi yang diterima. Keadaan Ishaan menunjukkan bahwa ia berada pada area saya tidak mampu. Namun, seiring dengan berjalannya waktu ia bertemu dengan guru Nikumbh yang membantu Ishaan dalam proses belajar sehingga pada akhirnya kemampuan belajar yang dimiliki Ishaan semakin meningkat.

2.      Perkembangan emosi, sosial, moral

Masalah yang dialami Ishaan berikutnya yaitu emosi yang tidak dapat dikontrol. Pada awal film ditunjukkan emosi Ishaan memuncak saat berkelahi dengan teman bermainnya. Selanjutnya emosi Ishaan juga tak terkendali ketika ia merasa kesulitan dan menerima informasi dalam kegiatan belajar. Emosi tersebut seperti kesal, marah, sedih, dan cemas yang digambarkan dengan perilakunya yang diam, murung, menangis, mencoret-coret buku, merobek buku, hingga membuang tas sekolahnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa emosi yang dimiliki Ishaan tidak menunjukkan tingkat yang stabil.

3.      Perbedaan individu dari aspek intelegensi, gaya belajar, dan kepribadian

Aspek intelegensi merupakan sebuah bakat kecerdasan yang dimiliki orang seorang individu. Intelegensi setiap individu pasti berbeda antara satu dengan yang lainnya. Dalam film Taare Zameen Par digambarkan bahwa Ishaan memiliki bakat dalam seni yakni melukis. Bakat yang dimiliki Ishaan berasal dari faktor lingkungan. Hal tersebut dapat diketahui dari film karena sejak kecil ibu dan kakak Ishaan sudah mengenalkannya pada seni lukis. Sehingga seiring berjalannya waktu, intelegensi yang dimiliki Ishaan lebih mengarah pada hal seni yakni melukis.

Gaya belajar yang diberikan seorang guru akan sangat berpengaruh pada perkembangan muridnya. Hal tersebut dapat dilihat dari gaya belajar yang diterapkan pada sekolah lama Ishaan yang nyatanya tidak mampu membuat kemampuan akademiknya berkembang. Berbeda dengan gaya belajar yang diterapkan oleh guru Nikumbh yang menerapkan beberapa kolaborasi gaya sehingga akhirnya mampu membuat Ishaan semakin berkembang dan semangat dalam hal belajar. Gaya belajar tersebut dapat dilihat ketika guru Nikumbh yang mengajarkan melukis, bernyanyi, dan berimajinasi dengan cara yang menarik.

Ishaan memiliki kepribadian yang lebih banyak berimajinasi dan bermain dengan pikirannya daripada mengemukakan pendapatnya secara gamblang. Ishaan tipe orang yang belajar dengan cara meniru orang lain. Namun, di samping itu ia memiliki kepribadian yang lebih condong ke introversion dan neoroctism berdasarkan pada model kepribadian big five. Tipe introvert dalam diri Ishaan dapat dilihat dari perilakunya yang kerap menutup diri dari dunia luar, pendiam, pemikir, dan suka bermain dengan imajinasinya senidiri. Sedangkan, tipe neoroctism dalam diri Ishaan dapat dilihat dari perilakunya yang merasa takut dalam belajar dan menganggap belajar adalah sebuah tekanan untuknya, hal ini juga bisa dilihat dari Ishaan yang terkadang merasa takut akan melakukan kesalahan. Hal tersebut bisa dilihat saat Ishaan diperintahkan membaca salah satu paragrap oleh guru bahasa inggirs dan ia merasa gugup dan takut membaca dengan cara yang salah.

4.      Perbedaan budaya terhadap pembelajaran

Salah satu perbedaan budaya yang mempengaruhi pembelajaran dalam film Taare Zameen Par ini yakni mengenai aspek sosial dan ekonomi keluarga Ishaan yang berada pada tingkat berkecukupan. Ayah Ishaan yang sibuk bekerja membuat ia tak mampu memberikan perhatian penuh terhadap perkembangan si anak. Hal tersebut membuat Ishaan merasa tak mendapatkan kasih sayang dan perhatian secara khusus di rumahnya.

 

C.    Kesan yang didapat dari film Taare Zameen Par

Kesan yang saya dapatkan dari film Taare Zameen Par yakni mengenai bagaimana sikap yang seharusnya dimiliki saya sebagai seorang calon guru dan tenaga didik. Seorang guru yang baik yakni yang mampu memahami peserta didiknya secara dalam dan mampu membimbing muridnya menghadapi setiap permasalahan dalam hal belajar. Hal tersebut dapat saya pahami dengan jelas dari sikap yang ditunjukkan oleh guru Nikumbh kepada muridnya yakni Ishaan. Dari sana saya menyadari bahwa penting sekali memahami keadaan murid agar ilmu yang kita berikan juga mampu ditangkap dengan baik.

Selain itu, dalam mengajar seorang guru juga harus memiliki rasa sabar dalam hal membimbing dan mengajarkan muridnya. Untuk menghadapi peserta didik yang memiliki berbagai macam perbedaan, bukan hanya ilmu pengetahuan yang harus guru miliki melainkan kasih sayang dan perhatian juga untuk memahami setiap peserta didiknya.  

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sekarya: Analisis Naskah Drama “Malam Jahanam” karya Mottinggo Boesie

Sekarsa: Kembali

Sekarya: Ikatan di Gunung Kacangan