Sekarsa: Bait Kaya yang Terucap
Prologue :
Bait Kata yang terucap
Aku ingin mengatakan padamu bahwa aku senang. Darimu aku belajar bagaimana
cara tersenyum di antara luka yang selama ini tertimbun. Kamu telah
mengajarkanku bagaimana cara sedikit berbahagia di antara banyaknya duka.
Menyelipkan kebahagiaan kecil yang tidak pernah kuduga sebelumnya.
Aku ingin mengatakan padamu bahwa aku menyukaimu. Kehadiranmu mampu
mengubah hidupku menjadi sedikit lebih berwarna. Bayanganmu akan selalu tampak
jelas dalam netraku bahkan ketika aku memejam. Kamu membuatku menikmati rasa
yang tidak pernah kutemui sebelumnya. Kamu membuatku jatuh cinta dengan begitu
sederhana. Meski aku tahu, jatuh cinta sama dengan luka. Namun, aku ingin terus
merengkuh duniamu.
Aku ingin mengatakan padamu bahwa aku menyerah. Tidak ada jalan pulang yang
bisa mengembalikan semuanya. Aku kelelahan menunggu hari indah yang pada
kenyataannya tidak pernah dibiarkan terbit untuk kita. Nestapa seakan seperti
ribuan panah yang menusuk ragaku hingga sekarat. Yang mampu kulakukan sepanjang
malam hanya mengalunkan melodi kerinduan pada gelak tawamu.
Aku ingin mengatakan padamu bahwa aku telah kalah. Aku tidak bisa terus
tersenyum dan mendamba harapan-harapan yang sebenarnya kosong. Setiap
penyembuhan tak pernah menjadi guna, karena setiap luka itu akan kembali terbuka dengan jutaan alasan. Aku
bahkan terlalu takut untuk membayangkan akan seperti apa hari esok yang ‘kan
datang menghampiriku.
Aku ingin mengatakan padamu bahwa aku ingin berhenti. Tidak ada yang
tersisa selain perasaan membekas yang pernah tergambar jelas di hatiku saat
ini. Semua impianku hilang seperti lenyap tersapu angin dalam satu kedipan mata.
Bayang-bayangmu bahkan hanya datang ketika rintik gerimis malam itu membasahi
dinding hatiku yang kesepian menanti cahaya fajar di hari yang kuharap indah.
Teruntuk Kanala ....
Seseorang yang seakan menutup dunianya
rapat-rapat. Menolak siapapun masuk, bahkan sontak mengusirnya sebelum sempat
mengetuk pintu.
Seseorang yang mencintai musik dalam setiap lantunan suara
petikan gitar dari jemari-jemari manisnya. Yang senyumannya indah seperti
senandung merdu yang menuntunku tuk hanyut dalam kalbu.
Setiap detik yang berlalu akan kunikmati bersamamu, Nala. Aku
harap waktu bisa berhenti. Aku berharap waktu bisa membeku agar aku bisa
bersamamu sedikit lebih lama lagi. Membiarkanmu bersenandung dengan melodi
terakhirmu untukku.
🎼🎼🎼
Komentar
Posting Komentar