Sekarya: Naskah Drama Gambar Perahu Layar di Dinding

 


Lakon

GAMBAR PERAHU LAYAR DI DINDING

Karya Putri Meilia Sari

Diadaptasi dari cerpen karya Chairil Gibran Ramadhan

 

BABAK I

ADEGAN I

SUASANA SUDAH GADUH DI PAGI BUTA. DUA ORANG SIPIR YANG BIASANYA BERJAGA DI UJUNG LORONG MENGHUJAMI BERBAGAI PERTANYAAN PADA PARA TAHANAN DI SEL NOMOR DUA PULUH LIMA SEMBARI SESEKALI MENGHADIAHINYA DENGAN TENDANGAN DAN PUKULAN KE TUBUH MEREKA. SEMENTARA ITU, MELALUI TEMARAMNYA LAMPU TEMBAK DARI MENARA JAGA, PARA TAHANAN TIDAK BISA MENJAWAB DAN HANYA SESEKALI MENATAP KE ARAH DIDING SEL YANG SUDAH KOSONG TAK BERBEKAS.

 

SIPIR 1

Cepat katakan, ke mana kakek tua bangka itu kabur! (sambil memukulkan pentungan besi ke ulu hati Herman)

 

SIPIR 2

Tidak mungkin kalian semua tidak tahu!

 

SIPIR 1

Oh, atau jangan-jangan kalian yang bantu dia kabur?

 

(menendang rahang Kamal)

 

Masih tidak mau menjawab, hah?

 

TIYO

Demi Tuhan, kami tidak tahu bagaimana Pak Yus kabur!

 

HERMAN

Kalau tahu dia kabur tentu kami akan ikut!

 

(terbatuk-batuk)

 

Kami adalah orang yang tak suka menyia-nyiakan kesempatan.

 

SIPIR 2

Lalu, bagaimana mungkin si tua itu kabur sendirian tanpa ada yang mengetahuinya?

 

SIPIR 1

Kalian pikir kami akan percaya dengan kalian? Dari tadi bilang tidak tahu terus. Cepat katakan yang sejujurnya!

 

TIYO

Bukankah sudah kami katakan berulang kali juga.

Kami tidak tahu!

 

SIPIR 1

Bohong! Kalian pasti bohong!

 

SIPIR 2

Bukankah kalian tahu, apa akibatnya jika kalian sampai berani melawan kami?

Awas saja kalau si tua itu tertangkap lagi di negeri ini.

 

(menodongkan pentungan besi ke depan wajah Tiyo)

 

Akan ku remukkan wajahnya!

 

TIYO

Hahaha, berlagak mau menangkap tahanan kabur. Setiap hari kalian bahkan hanya ongkang-ongkang kaki sambil menghisap rokok-rokok busuk.

 

KAMAL

Mungkin semalam Pak Yus memanjat jendela atau barangkali mencuri kunci jeruji besi sialan ini ketika kalian lengah. Kerja kalian ‘kan hanya bersantai dan tidur di ujung lorong ini! Lagi pula seharusnya bukan kami yang disalahkan. Salahkan diri kalian sendiri, sipir yang tidak becus kerja!

 

(kemudian, sebuah tendangan mendarat di dada Kamal)

 

Uhuk, uhuk! (terbatuk-batuk sambil memegangi dada)

 

SIPIR 1 (mendengus kesal)

Kurang ajar! Malah menyalahkan kita. Justru kalian yang selalu bersama si tua itu di sini, mana mungkin tidak tahu!

 

PARA TAHANAN KEMBALI DIAM DAN TERUS MENERIMA PUKULAN DARI KEDUA SIPIR. SALAH SATUNYA MELIRIK AHMAD YANG SEJAK TADI HANYA DIAM DI SUDUT SEL. SIPIR TERSEBUT MENDEKAT SAMBIL MEMAINKAN PENTUNGAN BESI DI TANGANNYA.

 

SIPIR 1

Hey, kau yang kurus! Mengapa sejak tadi tidak bersuara?

 

SIPIR 2

Jangan-jangan kau yang membantu si tua kabur dari sel ini. Benar?

 

SIPIR 1

Wah … wah …. (terkekeh mengejek)

 

SIPIR 2

Kau bisu?

 

(menampar pipi Ahmad)

 

Ku tanya, apa kau bisu?

 

SIPIR 1 MAJU MENDEKATI AHMAD DENGAN TANGAN MENGEPAL, KEMUDIAN BERSIAP HENDAK MEMUKUL WAJAHNYA.

 

SIPIR 1

Sepertinya harus diberi satu bogeman dulu supaya mau bicara.

 

(meninju rahang Ahmad)

 

Nah, sekarang harusnya sudah mau bicara, dong. (terkekeh mengejek)

 

AHMAD

Gambar perahu layar di dinding itu sudah tidak ada. Perahu itu sudah pergi berlayar, Mal, Man, Yo!

 

(berteriak kepada Tiyo, Herman, dan Kamal)

(menatap sipir dengan ekspresi datar)

 

Jika kukatakan yang sebenarnya, apa kalian akan percaya?

 

SIPIR 2

Ah, bicaramu terlalu bertele-tele! Bukannya langsung menjawab dengan jelas..

 

SIPIR 1

Sudah kuduga, pasti ada yang membantu si tua itu kabur. Mana mungkin bisa memanjat jendela sendiri. Sekali bergerak saja, aku yakin, pasti tulang-tulang kurusnya itu langsung patah!

 

AHMAD

Baik. Akan ku katakan tapi, berhenti pukuli kami!

 

SIPIR 2

Tinggal menjawab saja apa susahnya!

 

SIPIR 1

Jika kalian menjawab dengan jelas, sedari tadi kami juga tak akan memukuli kalian terus.

 

TIYO

Sejak tadi kami juga sudah menjawab apa adanya, sipir sialan! (sambil mengusap darah di sudut bibirnya yang sobek)

 

SIPIR 1

Kurang ajar! Kau yang sialan!!  (menendang dada Tiyo)

 

AHMAD

Sudah cukup!!! Kalian mau membunuh kami atau bagaimana? (menatap tajam ke kedua sipir bergantian)

 

SIPIR 1

Mulut temanmu ini punya nyali besar! Aku tak berniat membunuhnya, hanya saja dia malah berbicara kurang ajar. (menunjuk Tiyo dengan dagu)

 

AHMAD

Bahkan kalian juga lebih kelewatan darinya.

Yang kalian butuhkan hanya alasan mengapa Pak Yus bisa kabur, ‘kan? Baik, akan aku jawab.

 

(menunjuk dinding)

 

Aku tak berharap kalian percaya dengan ucapanku ini. Yang kami tahu, Pak Yus telah pulang menggunakan perahu layar yang ia gambar pada dinding itu.

 

KEDUA SIPIR

Hahahahaha …. (tertawa meremehkan)

 

SIPIR 2

Sekali membuka mulut, bicaramu benar-benar sudah melantur!

 

SIPIR 1

Hahaha … mustahil!!

 

AHMAD (berbisik pada dirinya sendiri sambil menatap dinding sel)

Bahkan aku juga tak mempercayai ucapanku barusan.

 

LAMPU BLACKOUT

 

ADEGAN II

FLASHBACK KE MALAM SEBELUMNYA. SEORANG SIPIR TENGAH BERJAGA DAN MENYUSURI LORONG SEL SEMBARI MENYERET TONGKAT BESINYA DI ATAS JERUJI SEHINGGA MENGHASILKAN SUARA NYARING YANG MEMBELAH KESUNYIAN. SEMENTARA ITU, DI SEL NOMOR DUA PULUH LIMA TERDAPAT PAK YUSUF, AHMAD, TIYO, HERMAN, DAN KAMAL YANG BELUM TERTIDUR KARENA BELUM DITIMPA KANTUK.

 

SIPIR (mengarahkan senter ke arah sel dua puluh lima)

Hey! Kalian berlima mengapa belum tidur? Sudah jam berapa ini!

 

PAK YUSUF, AHMAD, HERMAN, TIYO, DAN KAMAL TETAP DIAM, TIDAK BERNIAT MENJAWAB. SIPIR PUN DIBUAT SEDIKIT GERAM.

 

SIPIR

Oohh … jangan-jangan kalian merencanakan sesuatu untuk kabur dari sini, ya?

 

(memukulkan tongkat besinya ke jeruji)

 

Awas saja kalau sampai kabur!

 

PAK YUSUF

Kami belum mengantuk, Pak.

 

HERMAN (mendengus kesal)

Lagi pula, kalau bisa pasti kami sudah kabur sejak dulu dari sel bau apek ini.

 

SIPIR

Ya sudah, tidak usah sewot.

Cepat tidur! Awas kalau besok sampai bangun kesiangan. Pagi sekali kalian harus kerja bakti membersihkan sel bau ini!

 

TIYO

Iya … iya … cerewet sekali kau! Sudah, sana pergi saja.

 

KEMUDIAN, SIPIR PUN BERLALU PERGI MELANJUTKAN PATROLI MALAMNYA. JAM DINDING DI UJUNG LORONG SUDAH MENUNJUKKAN PUKUL SEPULUH LEWAT DELAPAN BELAS. NAMUN, EMPAT ORANG DI SEL NOMOR DUA PULUL LIMA ITU MASIH TETAP TERJAGA SAMBIL BERBINCANG-BINCANG. SEDANGKAN, PAK YUSUF MEMILIH BERBARING MERINGKUK MEMBELAKANGI MEREKA.

 

KAMAL

Tidur cepat dimarahi. Tidur telat juga dimarahi. (melirik sipir yang sudah berjalan menjauhi sel mereka)

 

HERMAN

Para bedebah itu memang menyebalkan sekali!

 

TIYO

Benar. Mereka seperti tidak memiliki pekerjaan lain selain menggertak dan memarahi kita dengan kata-kata kasarnya.

 

HERMAN

Begini begitu, selalu saja salah. Kalau begitu, bukankah lebih baik mereka melepaskan kita dari sini?

 

KAMAL

Kalau saja waktu itu aku membawa paculku dari sawah, sudah kupastikan tubuh mereka akan tertanam di tanah saat ini juga.

 

HERMAN DAN TIYO TERTAWA MENDENGAR UCAPAN KAMAL, SEDANGKAN AHMAD MENGGELENG-GELENGKAN KEPALANYA SEMBARI TERSENYUM-SENYUM.

 

AHMAD

Mal, Kamal, kau ini. Jangankan mau membawa harta benda. Ketika diberi tahu bahwa aku diterima bekerja menjadi buruh di negeri ini pun, aku senang bukan kepalang hingga hanya berangkat bermodalkan niat.

 

HERMAN

Ku kira aku akan dapat pekerjaan bagus dan bisa makan enak. Lalu, kembali pulang menemui istriku yang cantik, tapi malah terjebak di sini ditemani sebatang ubi rebus. (memasang wajah masam sambil menatap ubi rebus sisa makan mereka)

 

KAMAL

Dulu aku juga selalu bermimpi hidup enak. Eh … sekarang bahkan hanya makan sekali sehari dengan piring usang, minum air yang bau dari cangkir kaleng, serta mandi seminggu sekali tanpa pernah menggunakan sabun, itu pun juga menggunakan air yang keruh.

 

TIYO (menepuk pundak Herman pelan)

Aku jadi rindu istriku juga, Man. Bukankah sudah nyaris tiga tahun kita ada di kurungan besi ini? Anak laki-lakiku pasti sudah besar. Sementara itu, aku hanya bisa melihat cahaya matahari lewat jendela kecil itu.  (menatap jendela kecil di dinding sel yang menyilaukan cahaya lampu tembak dari menara jaga)

 

HERMAN (ikut mengamati jendela)

Ah, setiap hari aku selalu menanti-nanti hari kebebasan. Kira-kira, apakah kita akan terus di sini sampai tua? (menatap Ahmad, Tiyo, dan Kamal bergantian)

 

KAMAL (sedikit menundukkan kepala)

Tentu siapa yang mau begitu, Man? Tapi, apakah ada orang yang akan menyelamatkan kita? (nada bicaranya lesu)

 

AHMAD

Kita datang ke sini berniat untuk mencari pekerjaan yang lebih layak daripada hanya menjadi petani yang mengalami gagal panen karena negerinya dilanda kekeringan. Tidak ada yang tahu bahwa pribumi di sini begitu kejam dan tak berhati nurani sehingga enggan menerima kita. Mau berharap apa kau, Mal? Penyelamat yang kita harapkan tidak akan pernah datang. (tersenyum getir)

 

TIYO

Ucapanmu benar, Mad. Di negeri ini kita hanya dianggap sebagai pendatang haram yang menumpang cari makan. Mungkin, mereka juga menganggap kita tidak punya rasa malu, sehingga mereka selalu geram ketika melihat wajah kita ini.

 

KAMAL

Bahkan kita lebih tampan dibanding sipir-sipir itu. Namun, meskipun kedatangan kita ke negeri ini disambut dengan mata merah mereka, setidaknya kita beruntung karena masih dibiarkan bernapas dengan bebas.

 

HERMAN

Dan diberi ubi rebus tentunya.

 

TIYO

Hah …. (menghela napas dengan keras)

 

AHMAD

Kita masih bisa menyelamatkan diri sendiri dengan terus bertahan hidup di sini. (menatap Tiyo, Kamal, dan Herman dengan senyuman tipis)

 

Aku yakin kita akan pergi dari negeri ini dan pulang menemui anak serta istri kita. Suatu hari nanti. Ada Tuhan Yang Maha Penolong.

 

HERMAN

Betul kamu, Mad! (menatap Tiyo dan Kamal bergantian)

 

Betul kata Ahmad. Mari kita terus berdoa agar Tuhan menunjukkan kebesarannya.

 

AHMAD, TIYO, DAN KAMAL MENGANGGUK DAN TERSENYUM TIPIS SETELAH MENDENGAR UCAPAN HERMAN. PAK YUSUF TERTANYA BELUM TIDUR DAN SENGAJA MENDENGARKAN PEMBICARAAN REKAN-REKANNYA TERSEBUT.

 

AHMAD

Oh! Pak Yus, Anda belum tertidur? (kaget melihat Pak Yus bangun)

 

KAMAL

Apakah Bapak terganggu dengan suara kami tadi?

 

PAK YUSUF (tersenyum tipis lalu menggeleng pelan)

Ah, tidak. Aku memang tidak tidur. Belum mengantuk juga, sama seperti kalian.

Dan setelah mendengar cerita kalian tadi, aku juga jadi rindu rumahku.

 

AHMAD, TIYO, HERMAN, DAN KAMAL TETAP DIAM, TAK BERNIAT MENYAHUTI UCAPAN PAK YUS KARENA MEREKA SEMUA JUGA MERASAKAN KERINDUAN YANG SAMA DENGAN KAMPUNG HALAMAN. TAK BEBERAPA LAMA KEMUDIAN, PAK YUS BERDIRI KEMUDIAN MEMUNGUT KERIKIL KECIL DI PINGGIRAN TEMBOK DAN MULAI MELUKISKAN SESUATU DI TEMBOK BERBATU BATA MERAH ITU. AHMAD, TIYO, HERMAN, DAN KAMAL MENGERUTKAN KENINGNYA KETIKA MELIHAT HAL APA YANG TENGAH DILAKUKAN LAKI-LAKI UMUR ENAM PULUHAN ITU.

 

TIYO (merasa heran)

Pak, apa yang sedang Pak Yus lakukan?

 

HERMAN

Jika Bapak terus menggoreskan kerikil itu pada dinding, besok pasti kita akan dimarahi habis-habisan oleh para sipir di sini, Pak. (nada bicara sedikit khawatir)

 

PAK YUSUF MENGABAIKAN UCAPAN REKAN-REKANNYA DAN TERUS MENGGORESKAN KERIKIL KECIL DI GENGGAMANNYA PADA TEMBOK KASAR YANG MEMBENTENGI MEREKA DENGAN DUNIA LUAR ITU.

 

AHMAD

Pak Yus sedang menggambar?

 

PAK YUSUF

(melirik Ahmad lalu mengangguk dengan senyuman tipis)

 

KAMAL

(menggaruk tengkuknya sambil memperhatikan gambaran Pak Yus di dinding dengan teliti)

 

Menggambar apa itu, Pak? Terlihat tidak begitu jelas karena cahayanya temaram.

 

PAK YUSUF

Nanti kalau sudah selesai akan saya ceritakan, Mal. (menjawab dengan suara lembut)

 

PAK YUSUF TERUS MELANJUTKAN KEGIATAN MENGGAMBARNYA TANPA BERBICARA SAMA SEKALI DENGAN AHMAD, TIYO, HERMAN, ATAUPUN KAMAL. HINGGA WAKTU PUN TELAH MENUNJUKKAN PUKUL 00.35 DINI HARI. PAK YUSUF MELEMPARKAN KERIKIL YANG TADI IA JADIKAN SEBAGAI PENSIL KE LUAR SEL. IA MELIHAT BAHWA SEMUA TAHANAN TELAH TIDUR DENGAN PULAS, BEGITUPUN DENGAN PARA SIPIR YANG BEBERAPA JAM LALU MASIH BERISIK KARENA MAIN KARTU. PERLAHAN PAK YUSUF MENEPUK BAHU AHMAD, TIYO, HERMAN, DAN KAMAL BERGANTIAN AGAR MEREKA LEKAS TERBANGUN.

 

AHMAD, TIYO, HERMAN, DAN KAMAL DUDUK MEMANDANG KE ARAH PAK YUSUF YANG SIAP MENUNJUKKAN GAMBARANNYA.

 

PAK YUSUF

Saya sudah menyelesaikan gambaran saya tadi.

 

AHMAD, TIYO, HERMAN, DAN KAMAL MEMANDANG TAKJUB GAMBARAN PERAHU LAYAR DI DINDING YANG SEMULA KOSONG DAN TERLIHAT MEMUAKKAN ITU.

 

KAMAL

Waaaaaah …. (membuka mulut lebar-lebar)

 

TIYO

Luar biasa, Pak Yus! (menatap dinding dengan takjub)

 

HERMAN

(menggeleng-gelengkan kepala sambil bertepuk tangan kecil)

 

AHMAD

Perahu layar itu bahkan terlihat seribu kali lebih indah dari perahu yang membawa kita ke negeri sialan ini!

 

PAK YUSUF (tersenyum lebar)

Ya! Aku sengaja membuatnya dengan sempurna.

 

(menatap Ahmad, Tiyo, Herman, dan Kamal bergantian dengan antusias)

 

Besok subuh saya akan berlayar menggunakan kapal indah ini untuk pulang ke negeri kita. Siapa yang mau ikut?

 

WAJAH AHMAD, TIYO, HERMAN, SERTA KAMAL YANG SEMULA TAKJUB DAN KAGUM PUN BERGANTI DENGAN EKSPRESI GELI MENAHAN TAWA KARENA UCAPAN PAK YUSUF BARUSAN.

 

PAK YUSUF

Hey! (setengah membentak karena takut orang-orang akan bangun)

 

Kenapa kalian justru menahan tawa seperti itu? Apa ada yang lucu?

 

TIYO

Pak, kita ini sama. Sama-sama merindukan kampung halaman kita di negeri seberang. Namun, ajakan Pak Yus benar-benar tidak--

 

PAK YUSUF

Oh, kalian tidak memercayai ucapan saya barusan?

 

AHMAD, TIYO, HERMAN, DAN KAMAL MENUNDUK SAMBIL SESEKALI MELIRIK KE ARAH PAK YUSUF DAN GAMBAR PERAHU LAYAR DI DINDING YANG MENDAPAT CAYAHA LAMPU DENGAN TEMARAM ITU.

 

PAK YUSUF

Baik. Saya akan tanya kepada kalian sekali lagi. Tapi, jangan tertawa.

 

(menarik napas pelan dan memandangi wajah Ahmad, Tiyo, Herman, dan Kamal satu per satu)

 

Siapa yang mau ikut saya berlayar menggunakan kapal ini untuk pulang, subuh nanti?

 

HENING. TIDAK ADA YANG BERMINAT MENGELUARKAN SUARA UNTUK MENJAWAB AJAKAN PAK YUSUF.

 

PAK YUSUF

Ah, jadi tidak ada yang mau ikut saya, ya?

 

(tersenyum tipis)

 

Baiklah, kalau begitu.

 

AHMAD (berbicara dengan ragu)

Bu-bukan seperti itu maksud kami, Pak Yus.

Bukannya kami tidak percaya dengan Bapak, tetapi--

 

PAK YUSUF

Tidak ada yang namanya percaya namun menggunakan embel-embel tetapi. Itu tandanya kalian memang benar-benar tidak percaya pada saya, Ahmad!

 

(kemudian terkekeh)

 

Saya tahu kalian pasti mengira saya gila. Tapi, kalau kalian tak mau mau terus-menerus hidup di dalam penjara ini, kurus kering, sakit-sakitan, dan akhirnya mati tanpa diketahui sanak saudara karena pihak penjara memang tidak pernah mengabari pihak luar untuk kematian pendatang haram seperti kita, silakan saja ikut saya. Namun, jika kalian memang memilih tetap di sini, ya sudah lah. Ingat, jangan pernah menyesali penolakan kalian ini.

 

HERMAN (menghela napas pelan)

Sudahlah, Pak. Sekarang sudah larut malam. Besok pagi sekali kita ada kegiatan kerja bakti, lebih baik kita kembali istirahat dan tidur.

 

TIYO

Betul, Pak Yus. Mari berbagi selimut dengan saja agar tidur Bapak lebih nyanyak. (bersiap berbaring sambil membetulkan selimut lusuhnya)

 

PAK YUSUF

Haha … baik. Lanjutkan saja tidur kalian. Tapi, sebelum itu saya akan berpamitan sekarang saja, karena besok ketika kalian bangun, saya sudah tidak berada di sel kotor ini. Saya pasti sudah berlayar dengan perahu indah itu. (menunjuk dinding dengan bangga)

 

AHMAD

Pak Yus ….

 

PAK YUSUF

Sebentar, Mad. Biarkan saya berpamitan kepada kalian.

Ini adalah malam terakhir saya di sini. Apabila selama kalian mengenal saya terdapat ucapan dan perbuatan sayang yang membuat kalian sakit hati, saya mohon maaf. Begitu pun sebaliknya, saya juga telah memaafkan segala kesalahan kalian terhadap diri saya. Terima kasih karena selama ini kalian sudah menghormati saya sebagai orang yang lebih tua dari kalian berempat.

 

(menjeda dengan hening beberapa detik)

(kepada Ahmad)

 

Ahmad, jika saya sudah sampai di desa, saya akan memberi tahu istrimu bahwa kau baik-baik saja dan masih hidup.

 

(kepada Herman)

 

Man, saya juga akan mengatakan hal yang sama kepada istrimu dan mertuamu.

 

(kepada Tiyo)

 

Yo, akan saya katakan pada anak laki-lakimu bahwa ia harus tumbuh dengan baik agar ayahnya bisa bangga, kelak.

 

(kepada Kamal)

 

Dan kau, Kamal. Karena kau belum menikah, maka aku hanya akan berkabar kepada keluargamu saja.

 

AHMAD, TIYO, HERMAN, DAN KAMAL HANYA DIAM DENGAN TAMPANG KAKU SETELAH MENDENGAR UCAPAN PAMIT PAK YUSUF BARUSAN.

 

PAK YUSUF

Sudah sudah ….

Seperti kata Tiyo, mari kita menyambung tidur saja. (kemudian berbaring menghadap gambar perahu di dinding)

 

TIYO (menatap Ahmad yang masih diam membisu di sampingnya)

Sudahlah, Mad. Aku pernah mendengar pembicaraan para sipir bahwa akhir-akhir ini memang banyak tahanan yang suka berbicara ngawur dan tidak mengenali dirinya sendirI. Aku yakin Pak Yus juga akan sadar kembali esok hari. (berbicara dengan berbisik-bisik sambil menepuk pundak Ahmad pelan)

 

AHMAD

Hmm …. (tersenyum kecil kepada Tiyo, lalu bersiap tidur lagi)

 

KAMAL

Sudahlah, mari lanjutkan tidur.

 

AHMAD TERUS MEMIKIRKAN UCAPAN PAK YUSUF YANG TERUS MENGGANGGU HATINYA. SEBENARNYA IA INGIN MEMERCAYAI PAK YUSUF, NAMUN HAL YANG DIKATAKAN ITU TERLALU MUSTAHIL DINALAR. HINGGA TIBA DI KEMUDIAN PAGI, PAK YUSUF BENAR-BENAR MENGHILANG BERSAMA GAMBAR PERAHU LAYAR YANG DIGAMBARNYA PADA DINDING PENJARA. SEJAK HARI ITU AHMAD, TIYO, HERMAN, DAN KAMAL TERUS MERASA MENYESAL ATAS PENOLAKAN YANG TELAH MEREKA BERIKAN PADA AJAKAN PAK YUSUF.

 

SELESAI

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sekarya: Analisis Naskah Drama “Malam Jahanam” karya Mottinggo Boesie

Sekarsa: Kembali

Sekarya: Ikatan di Gunung Kacangan