Sekarya: Naskah Drama Gambar Perahu Layar di Dinding
Lakon
GAMBAR PERAHU LAYAR DI DINDING
Karya Putri Meilia Sari
Diadaptasi dari cerpen karya Chairil
Gibran Ramadhan
BABAK I
ADEGAN I
SUASANA SUDAH GADUH DI PAGI BUTA. DUA
ORANG SIPIR YANG BIASANYA BERJAGA DI UJUNG LORONG MENGHUJAMI BERBAGAI PERTANYAAN
PADA PARA TAHANAN DI SEL NOMOR DUA PULUH LIMA SEMBARI SESEKALI MENGHADIAHINYA
DENGAN TENDANGAN DAN PUKULAN KE TUBUH MEREKA. SEMENTARA ITU, MELALUI TEMARAMNYA
LAMPU TEMBAK DARI MENARA JAGA, PARA TAHANAN TIDAK BISA MENJAWAB DAN HANYA
SESEKALI MENATAP KE ARAH DIDING SEL YANG SUDAH KOSONG TAK BERBEKAS.
SIPIR 1
Cepat katakan, ke mana kakek tua bangka
itu kabur! (sambil memukulkan pentungan besi ke ulu hati Herman)
SIPIR 2
Tidak mungkin kalian semua tidak tahu!
SIPIR 1
Oh, atau jangan-jangan kalian yang bantu
dia kabur?
(menendang rahang Kamal)
Masih tidak mau menjawab, hah?
TIYO
Demi Tuhan, kami tidak tahu bagaimana
Pak Yus kabur!
HERMAN
Kalau tahu dia kabur tentu kami akan
ikut!
(terbatuk-batuk)
Kami adalah orang yang tak suka
menyia-nyiakan kesempatan.
SIPIR 2
Lalu, bagaimana mungkin si tua itu kabur
sendirian tanpa ada yang mengetahuinya?
SIPIR 1
Kalian pikir kami akan percaya dengan
kalian? Dari tadi bilang tidak tahu terus. Cepat katakan yang sejujurnya!
TIYO
Bukankah sudah kami katakan berulang
kali juga.
Kami tidak tahu!
SIPIR 1
Bohong! Kalian pasti bohong!
SIPIR 2
Bukankah kalian tahu, apa akibatnya jika
kalian sampai berani melawan kami?
Awas saja kalau si tua itu tertangkap
lagi di negeri ini.
(menodongkan pentungan besi ke depan
wajah Tiyo)
Akan ku remukkan wajahnya!
TIYO
Hahaha, berlagak mau menangkap tahanan
kabur. Setiap hari kalian bahkan hanya ongkang-ongkang kaki sambil menghisap
rokok-rokok busuk.
KAMAL
Mungkin semalam Pak Yus memanjat jendela
atau barangkali mencuri kunci jeruji besi sialan ini ketika kalian lengah.
Kerja kalian ‘kan hanya bersantai dan tidur di ujung lorong ini! Lagi pula
seharusnya bukan kami yang disalahkan. Salahkan diri kalian sendiri, sipir yang
tidak becus kerja!
(kemudian, sebuah tendangan mendarat di
dada Kamal)
Uhuk, uhuk! (terbatuk-batuk
sambil memegangi dada)
SIPIR 1 (mendengus kesal)
Kurang ajar! Malah menyalahkan kita. Justru
kalian yang selalu bersama si tua itu di sini, mana mungkin tidak tahu!
PARA TAHANAN KEMBALI DIAM DAN TERUS
MENERIMA PUKULAN DARI KEDUA SIPIR. SALAH SATUNYA MELIRIK AHMAD YANG SEJAK TADI
HANYA DIAM DI SUDUT SEL. SIPIR TERSEBUT MENDEKAT SAMBIL MEMAINKAN PENTUNGAN
BESI DI TANGANNYA.
SIPIR 1
Hey, kau yang kurus! Mengapa sejak tadi
tidak bersuara?
SIPIR 2
Jangan-jangan kau yang membantu si tua
kabur dari sel ini. Benar?
SIPIR 1
Wah … wah …. (terkekeh mengejek)
SIPIR 2
Kau bisu?
(menampar pipi Ahmad)
Ku tanya, apa kau bisu?
SIPIR 1 MAJU MENDEKATI AHMAD DENGAN
TANGAN MENGEPAL, KEMUDIAN BERSIAP HENDAK MEMUKUL WAJAHNYA.
SIPIR 1
Sepertinya harus diberi satu bogeman
dulu supaya mau bicara.
(meninju rahang Ahmad)
Nah, sekarang harusnya sudah mau bicara,
dong. (terkekeh mengejek)
AHMAD
Gambar perahu layar di dinding itu sudah
tidak ada. Perahu itu sudah pergi berlayar, Mal, Man, Yo!
(berteriak kepada Tiyo, Herman, dan
Kamal)
(menatap sipir dengan ekspresi datar)
Jika kukatakan yang sebenarnya, apa
kalian akan percaya?
SIPIR 2
Ah, bicaramu terlalu bertele-tele! Bukannya
langsung menjawab dengan jelas..
SIPIR 1
Sudah kuduga, pasti ada yang membantu si
tua itu kabur. Mana mungkin bisa memanjat jendela sendiri. Sekali bergerak
saja, aku yakin, pasti tulang-tulang kurusnya itu langsung patah!
AHMAD
Baik. Akan ku katakan tapi, berhenti
pukuli kami!
SIPIR 2
Tinggal menjawab saja apa susahnya!
SIPIR 1
Jika kalian menjawab dengan jelas,
sedari tadi kami juga tak akan memukuli kalian terus.
TIYO
Sejak tadi kami juga sudah menjawab apa
adanya, sipir sialan! (sambil mengusap darah di sudut bibirnya yang sobek)
SIPIR 1
Kurang ajar! Kau yang sialan!! (menendang dada Tiyo)
AHMAD
Sudah cukup!!! Kalian mau membunuh kami
atau bagaimana? (menatap tajam ke kedua sipir bergantian)
SIPIR 1
Mulut temanmu ini punya nyali besar! Aku
tak berniat membunuhnya, hanya saja dia malah berbicara kurang ajar. (menunjuk
Tiyo dengan dagu)
AHMAD
Bahkan kalian juga lebih kelewatan
darinya.
Yang kalian butuhkan hanya alasan
mengapa Pak Yus bisa kabur, ‘kan? Baik, akan aku jawab.
(menunjuk dinding)
Aku tak berharap kalian percaya dengan
ucapanku ini. Yang kami tahu, Pak Yus telah pulang menggunakan perahu layar
yang ia gambar pada dinding itu.
KEDUA SIPIR
Hahahahaha …. (tertawa meremehkan)
SIPIR 2
Sekali membuka mulut, bicaramu
benar-benar sudah melantur!
SIPIR 1
Hahaha … mustahil!!
AHMAD (berbisik pada dirinya sendiri sambil
menatap dinding sel)
Bahkan aku juga tak mempercayai ucapanku
barusan.
LAMPU BLACKOUT
ADEGAN II
FLASHBACK KE MALAM SEBELUMNYA. SEORANG
SIPIR TENGAH BERJAGA DAN MENYUSURI LORONG SEL SEMBARI MENYERET TONGKAT BESINYA
DI ATAS JERUJI SEHINGGA MENGHASILKAN SUARA NYARING YANG MEMBELAH KESUNYIAN.
SEMENTARA ITU, DI SEL NOMOR DUA PULUH LIMA TERDAPAT PAK YUSUF, AHMAD, TIYO, HERMAN,
DAN KAMAL YANG BELUM TERTIDUR KARENA BELUM DITIMPA KANTUK.
SIPIR (mengarahkan senter ke arah sel dua puluh lima)
Hey! Kalian berlima mengapa belum tidur?
Sudah jam berapa ini!
PAK YUSUF, AHMAD, HERMAN, TIYO, DAN KAMAL
TETAP DIAM, TIDAK BERNIAT MENJAWAB. SIPIR PUN DIBUAT SEDIKIT GERAM.
SIPIR
Oohh … jangan-jangan kalian merencanakan
sesuatu untuk kabur dari sini, ya?
(memukulkan tongkat besinya ke jeruji)
Awas saja kalau sampai kabur!
PAK YUSUF
Kami belum mengantuk, Pak.
HERMAN (mendengus kesal)
Lagi pula, kalau bisa pasti kami sudah
kabur sejak dulu dari sel bau apek ini.
SIPIR
Ya sudah, tidak usah sewot.
Cepat tidur! Awas kalau besok sampai
bangun kesiangan. Pagi sekali kalian harus kerja bakti membersihkan sel bau ini!
TIYO
Iya … iya … cerewet sekali kau! Sudah,
sana pergi saja.
KEMUDIAN, SIPIR PUN BERLALU PERGI
MELANJUTKAN PATROLI MALAMNYA. JAM DINDING DI UJUNG LORONG SUDAH MENUNJUKKAN
PUKUL SEPULUH LEWAT DELAPAN BELAS. NAMUN, EMPAT ORANG DI SEL NOMOR DUA PULUL
LIMA ITU MASIH TETAP TERJAGA SAMBIL BERBINCANG-BINCANG. SEDANGKAN, PAK YUSUF
MEMILIH BERBARING MERINGKUK MEMBELAKANGI MEREKA.
KAMAL
Tidur cepat dimarahi. Tidur telat juga
dimarahi. (melirik sipir yang sudah berjalan menjauhi sel mereka)
HERMAN
Para bedebah itu memang menyebalkan
sekali!
TIYO
Benar. Mereka seperti tidak memiliki
pekerjaan lain selain menggertak dan memarahi kita dengan kata-kata kasarnya.
HERMAN
Begini begitu, selalu saja salah. Kalau
begitu, bukankah lebih baik mereka melepaskan kita dari sini?
KAMAL
Kalau saja waktu itu aku membawa paculku
dari sawah, sudah kupastikan tubuh mereka akan tertanam di tanah saat ini juga.
HERMAN DAN TIYO TERTAWA MENDENGAR UCAPAN
KAMAL, SEDANGKAN AHMAD MENGGELENG-GELENGKAN KEPALANYA SEMBARI TERSENYUM-SENYUM.
AHMAD
Mal, Kamal, kau ini. Jangankan mau
membawa harta benda. Ketika diberi tahu bahwa aku diterima bekerja menjadi
buruh di negeri ini pun, aku senang bukan kepalang hingga hanya berangkat
bermodalkan niat.
HERMAN
Ku kira aku akan dapat pekerjaan bagus
dan bisa makan enak. Lalu, kembali pulang menemui istriku yang cantik, tapi
malah terjebak di sini ditemani sebatang ubi rebus. (memasang wajah masam
sambil menatap ubi rebus sisa makan mereka)
KAMAL
Dulu aku juga selalu bermimpi hidup
enak. Eh … sekarang bahkan hanya makan sekali sehari dengan piring usang, minum
air yang bau dari cangkir kaleng, serta mandi seminggu sekali tanpa pernah
menggunakan sabun, itu pun juga menggunakan air yang keruh.
TIYO (menepuk pundak Herman pelan)
Aku jadi rindu istriku juga, Man.
Bukankah sudah nyaris tiga tahun kita ada di kurungan besi ini? Anak
laki-lakiku pasti sudah besar. Sementara itu, aku hanya bisa melihat cahaya
matahari lewat jendela kecil itu. (menatap
jendela kecil di dinding sel yang menyilaukan cahaya lampu tembak dari menara
jaga)
HERMAN (ikut mengamati jendela)
Ah, setiap hari aku selalu menanti-nanti
hari kebebasan. Kira-kira, apakah kita akan terus di sini sampai tua? (menatap
Ahmad, Tiyo, dan Kamal bergantian)
KAMAL (sedikit menundukkan kepala)
Tentu siapa yang mau begitu, Man? Tapi,
apakah ada orang yang akan menyelamatkan kita? (nada bicaranya lesu)
AHMAD
Kita datang ke sini berniat untuk
mencari pekerjaan yang lebih layak daripada hanya menjadi petani yang mengalami
gagal panen karena negerinya dilanda kekeringan. Tidak ada yang tahu bahwa
pribumi di sini begitu kejam dan tak berhati nurani sehingga enggan menerima
kita. Mau berharap apa kau, Mal? Penyelamat yang kita harapkan tidak akan
pernah datang. (tersenyum getir)
TIYO
Ucapanmu benar, Mad. Di negeri ini kita
hanya dianggap sebagai pendatang haram yang menumpang cari makan. Mungkin,
mereka juga menganggap kita tidak punya rasa malu, sehingga mereka selalu geram
ketika melihat wajah kita ini.
KAMAL
Bahkan kita lebih tampan dibanding
sipir-sipir itu. Namun, meskipun kedatangan kita ke negeri ini disambut dengan
mata merah mereka, setidaknya kita beruntung karena masih dibiarkan bernapas
dengan bebas.
HERMAN
Dan diberi ubi rebus tentunya.
TIYO
Hah …. (menghela napas dengan keras)
AHMAD
Kita masih bisa menyelamatkan diri
sendiri dengan terus bertahan hidup di sini. (menatap Tiyo, Kamal, dan
Herman dengan senyuman tipis)
Aku yakin kita akan pergi dari negeri
ini dan pulang menemui anak serta istri kita. Suatu hari nanti. Ada Tuhan Yang
Maha Penolong.
HERMAN
Betul kamu, Mad! (menatap Tiyo dan
Kamal bergantian)
Betul kata Ahmad. Mari kita terus berdoa
agar Tuhan menunjukkan kebesarannya.
AHMAD, TIYO, DAN KAMAL MENGANGGUK DAN
TERSENYUM TIPIS SETELAH MENDENGAR UCAPAN HERMAN. PAK YUSUF TERTANYA BELUM TIDUR
DAN SENGAJA MENDENGARKAN PEMBICARAAN REKAN-REKANNYA TERSEBUT.
AHMAD
Oh! Pak Yus, Anda belum tertidur? (kaget
melihat Pak Yus bangun)
KAMAL
Apakah Bapak terganggu dengan suara kami
tadi?
PAK YUSUF (tersenyum tipis lalu menggeleng pelan)
Ah, tidak. Aku memang tidak tidur. Belum
mengantuk juga, sama seperti kalian.
Dan setelah mendengar cerita kalian
tadi, aku juga jadi rindu rumahku.
AHMAD, TIYO, HERMAN, DAN KAMAL TETAP
DIAM, TAK BERNIAT MENYAHUTI UCAPAN PAK YUS KARENA MEREKA SEMUA JUGA MERASAKAN
KERINDUAN YANG SAMA DENGAN KAMPUNG HALAMAN. TAK BEBERAPA LAMA KEMUDIAN, PAK YUS
BERDIRI KEMUDIAN MEMUNGUT KERIKIL KECIL DI PINGGIRAN TEMBOK DAN MULAI
MELUKISKAN SESUATU DI TEMBOK BERBATU BATA MERAH ITU. AHMAD, TIYO, HERMAN, DAN
KAMAL MENGERUTKAN KENINGNYA KETIKA MELIHAT HAL APA YANG TENGAH DILAKUKAN
LAKI-LAKI UMUR ENAM PULUHAN ITU.
TIYO (merasa heran)
Pak, apa yang sedang Pak Yus lakukan?
HERMAN
Jika Bapak terus menggoreskan kerikil
itu pada dinding, besok pasti kita akan dimarahi habis-habisan oleh para sipir
di sini, Pak. (nada bicara sedikit khawatir)
PAK YUSUF MENGABAIKAN UCAPAN REKAN-REKANNYA
DAN TERUS MENGGORESKAN KERIKIL KECIL DI GENGGAMANNYA PADA TEMBOK KASAR YANG
MEMBENTENGI MEREKA DENGAN DUNIA LUAR ITU.
AHMAD
Pak Yus sedang menggambar?
PAK YUSUF
(melirik Ahmad lalu mengangguk dengan
senyuman tipis)
KAMAL
(menggaruk tengkuknya sambil
memperhatikan gambaran Pak Yus di dinding dengan teliti)
Menggambar apa itu, Pak? Terlihat tidak
begitu jelas karena cahayanya temaram.
PAK YUSUF
Nanti kalau sudah selesai akan saya
ceritakan, Mal. (menjawab dengan suara lembut)
PAK YUSUF TERUS MELANJUTKAN KEGIATAN
MENGGAMBARNYA TANPA BERBICARA SAMA SEKALI DENGAN AHMAD, TIYO, HERMAN, ATAUPUN
KAMAL. HINGGA WAKTU PUN TELAH MENUNJUKKAN PUKUL 00.35 DINI HARI. PAK YUSUF
MELEMPARKAN KERIKIL YANG TADI IA JADIKAN SEBAGAI PENSIL KE LUAR SEL. IA MELIHAT
BAHWA SEMUA TAHANAN TELAH TIDUR DENGAN PULAS, BEGITUPUN DENGAN PARA SIPIR YANG
BEBERAPA JAM LALU MASIH BERISIK KARENA MAIN KARTU. PERLAHAN PAK YUSUF MENEPUK
BAHU AHMAD, TIYO, HERMAN, DAN KAMAL BERGANTIAN AGAR MEREKA LEKAS TERBANGUN.
AHMAD, TIYO, HERMAN, DAN KAMAL DUDUK
MEMANDANG KE ARAH PAK YUSUF YANG SIAP MENUNJUKKAN GAMBARANNYA.
PAK YUSUF
Saya sudah menyelesaikan gambaran saya
tadi.
AHMAD, TIYO, HERMAN, DAN KAMAL MEMANDANG
TAKJUB GAMBARAN PERAHU LAYAR DI DINDING YANG SEMULA KOSONG DAN TERLIHAT
MEMUAKKAN ITU.
KAMAL
Waaaaaah …. (membuka mulut
lebar-lebar)
TIYO
Luar biasa, Pak Yus! (menatap dinding
dengan takjub)
HERMAN
(menggeleng-gelengkan kepala sambil
bertepuk tangan kecil)
AHMAD
Perahu layar itu bahkan terlihat seribu
kali lebih indah dari perahu yang membawa kita ke negeri sialan ini!
PAK YUSUF (tersenyum lebar)
Ya! Aku sengaja membuatnya dengan
sempurna.
(menatap Ahmad, Tiyo, Herman, dan Kamal
bergantian dengan antusias)
Besok subuh saya akan berlayar
menggunakan kapal indah ini untuk pulang ke negeri kita. Siapa yang mau ikut?
WAJAH AHMAD, TIYO, HERMAN, SERTA KAMAL
YANG SEMULA TAKJUB DAN KAGUM PUN BERGANTI DENGAN EKSPRESI GELI MENAHAN TAWA
KARENA UCAPAN PAK YUSUF BARUSAN.
PAK YUSUF
Hey! (setengah membentak karena takut
orang-orang akan bangun)
Kenapa kalian justru menahan tawa
seperti itu? Apa ada yang lucu?
TIYO
Pak, kita ini sama. Sama-sama merindukan
kampung halaman kita di negeri seberang. Namun, ajakan Pak Yus benar-benar
tidak--
PAK YUSUF
Oh, kalian tidak memercayai ucapan saya
barusan?
AHMAD, TIYO, HERMAN, DAN KAMAL MENUNDUK
SAMBIL SESEKALI MELIRIK KE ARAH PAK YUSUF DAN GAMBAR PERAHU LAYAR DI DINDING
YANG MENDAPAT CAYAHA LAMPU DENGAN TEMARAM ITU.
PAK YUSUF
Baik. Saya akan tanya kepada kalian
sekali lagi. Tapi, jangan tertawa.
(menarik napas pelan dan memandangi
wajah Ahmad, Tiyo, Herman, dan Kamal satu per satu)
Siapa yang mau ikut saya berlayar
menggunakan kapal ini untuk pulang, subuh nanti?
HENING. TIDAK ADA YANG BERMINAT
MENGELUARKAN SUARA UNTUK MENJAWAB AJAKAN PAK YUSUF.
PAK YUSUF
Ah, jadi tidak ada yang mau ikut saya,
ya?
(tersenyum tipis)
Baiklah, kalau begitu.
AHMAD (berbicara dengan ragu)
Bu-bukan seperti itu maksud kami, Pak
Yus.
Bukannya kami tidak percaya dengan
Bapak, tetapi--
PAK YUSUF
Tidak ada yang namanya percaya namun menggunakan
embel-embel tetapi. Itu tandanya kalian memang benar-benar tidak percaya pada
saya, Ahmad!
(kemudian terkekeh)
Saya tahu kalian pasti mengira saya
gila. Tapi, kalau kalian tak mau mau terus-menerus hidup di dalam penjara ini,
kurus kering, sakit-sakitan, dan akhirnya mati tanpa diketahui sanak saudara
karena pihak penjara memang tidak pernah mengabari pihak luar untuk kematian
pendatang haram seperti kita, silakan saja ikut saya. Namun, jika kalian memang
memilih tetap di sini, ya sudah lah. Ingat, jangan pernah menyesali penolakan
kalian ini.
HERMAN (menghela napas pelan)
Sudahlah, Pak. Sekarang sudah larut
malam. Besok pagi sekali kita ada kegiatan kerja bakti, lebih baik kita kembali
istirahat dan tidur.
TIYO
Betul, Pak Yus. Mari berbagi selimut
dengan saja agar tidur Bapak lebih nyanyak. (bersiap berbaring sambil
membetulkan selimut lusuhnya)
PAK YUSUF
Haha … baik. Lanjutkan saja tidur
kalian. Tapi, sebelum itu saya akan berpamitan sekarang saja, karena besok
ketika kalian bangun, saya sudah tidak berada di sel kotor ini. Saya pasti
sudah berlayar dengan perahu indah itu. (menunjuk dinding dengan bangga)
AHMAD
Pak Yus ….
PAK YUSUF
Sebentar, Mad. Biarkan saya berpamitan
kepada kalian.
Ini adalah malam terakhir saya di sini.
Apabila selama kalian mengenal saya terdapat ucapan dan perbuatan sayang yang
membuat kalian sakit hati, saya mohon maaf. Begitu pun sebaliknya, saya juga
telah memaafkan segala kesalahan kalian terhadap diri saya. Terima kasih karena
selama ini kalian sudah menghormati saya sebagai orang yang lebih tua dari
kalian berempat.
(menjeda dengan hening beberapa detik)
(kepada Ahmad)
Ahmad, jika saya sudah sampai di desa, saya
akan memberi tahu istrimu bahwa kau baik-baik saja dan masih hidup.
(kepada Herman)
Man, saya juga akan mengatakan hal yang
sama kepada istrimu dan mertuamu.
(kepada Tiyo)
Yo, akan saya katakan pada anak
laki-lakimu bahwa ia harus tumbuh dengan baik agar ayahnya bisa bangga, kelak.
(kepada Kamal)
Dan kau, Kamal. Karena kau belum
menikah, maka aku hanya akan berkabar kepada keluargamu saja.
AHMAD, TIYO, HERMAN, DAN KAMAL HANYA
DIAM DENGAN TAMPANG KAKU SETELAH MENDENGAR UCAPAN PAMIT PAK YUSUF BARUSAN.
PAK YUSUF
Sudah sudah ….
Seperti kata Tiyo, mari kita menyambung
tidur saja. (kemudian berbaring menghadap gambar perahu di dinding)
TIYO (menatap Ahmad yang masih diam membisu
di sampingnya)
Sudahlah, Mad. Aku pernah mendengar
pembicaraan para sipir bahwa akhir-akhir ini memang banyak tahanan yang suka
berbicara ngawur dan tidak mengenali dirinya sendirI. Aku yakin Pak Yus juga
akan sadar kembali esok hari. (berbicara dengan berbisik-bisik sambil menepuk
pundak Ahmad pelan)
AHMAD
Hmm …. (tersenyum kecil kepada Tiyo,
lalu bersiap tidur lagi)
KAMAL
Sudahlah, mari lanjutkan tidur.
AHMAD TERUS MEMIKIRKAN UCAPAN PAK YUSUF
YANG TERUS MENGGANGGU HATINYA. SEBENARNYA IA INGIN MEMERCAYAI PAK YUSUF, NAMUN
HAL YANG DIKATAKAN ITU TERLALU MUSTAHIL DINALAR. HINGGA TIBA DI KEMUDIAN PAGI,
PAK YUSUF BENAR-BENAR MENGHILANG BERSAMA GAMBAR PERAHU LAYAR YANG DIGAMBARNYA
PADA DINDING PENJARA. SEJAK HARI ITU AHMAD, TIYO, HERMAN, DAN KAMAL TERUS
MERASA MENYESAL ATAS PENOLAKAN YANG TELAH MEREKA BERIKAN PADA AJAKAN PAK YUSUF.
SELESAI
.jpg)
ceritanya baguss betul
BalasHapus