Sekarcarita: Renjana Biru

Renjana Biru


Hari ini Bagas bangun pagi. Nyamuk-nyamuk yang bersarang di sudut ruangan seakan terkejut karena begitu mendengar alarm, Bagas langsung bangun dengan tatapan mata penuh semangat untuk pergi ke sekolah. Padahal, biasanya alarm itu tidak pernah bermanfaat baginya karena setelah mematikan alarm, Bagas pasti akan melanjutkan acara tidurnya dan berakhir telat. Namun, pagi ini Bagas nampak begitu ceria, seakan hari ini merupakan hari yang sudah ia tunggu-tunggu. Pemuda itu meraih selimut lalu melipatnya dengan rapi sambil bernyanyi lagu ‘bangun tidur ku terus mandi’. Dan benar saja, setelah selesai pemuda itu lantas meraih handuk lalu masuk ke kamar mandi.

“Baru mau saya bangunin, Mas.” Bi Asri memasang wajah herannya ketika hendak melangkah menuju anak tangga untuk menuju kamar Bagas di lantai dua. Si tersangka justru hanya menunjukkan cengiran seraya menyisir rambutnya dengan tangan. Penampilan Bagas sudah rapi dengan baju seragam putih abu-abu dan jangan lupakan bau parfumnya yang semerbak. Bi Asri bahkan sempat curiga apakah anak majikannya itu mandi parfum? Oh, jangan lupakan juga wajahnya yang sok ganteng itu.

“Lagi pengin rajin, Bi,” ucap Bagas jujur kemudian duduk di meja makan untuk sarapan. Melihat itu Bi Asri tersenyum. Tak jarang bocah itu melewatkan sarapannya. Biasanya Bagas akan pergi begitu saja hanya dengan bekal seteguk susu buatannya. Perempuan usia lima puluhan itu pun mendekat. “Bibi ambilin nasi goreng ya, Mas?” tawarnya. Bagas mengalihkan sejenak atensinya dari layar handphone dalam genggamannya kemudian mengangguk dengan wajah dipenuhi senyum antusias. Sederet pesan muncul pada benda persegi itu.

Papa [06.12]
Papa, sudah transfer uang jajan kamu bulan ini.
Gunakan buat kebutuhan belajar dan sekolah kamu.
Jangan buat beli gitar-gitar nggak jelas seperti bulan lalu, atau Papa akan buang semua alat musik kamu itu.
Kamu harusnya fokus dengan sekolah kamu daripada ngurusin band dan musik yang nggak jelas.
Papa capek dapat laporan dari sekolah karena kelakuan kamu yang bandel. Kerjaan Papa banyak, kamu jangan tambah bikin pusing.

“Dihabisin ya, Mas Bagas.”

Bagas menutup cepat layar handphone-nya hingga kini menampakkan layar hitam. Pemuda itu meletakkan benda tersebut di meja kemudian menampakkan senyum lagi pada Bi Asri sambil mengucapkan terima kasih dan membiarkan perempuan itu berlalu lagi menuju dapur. Pemuda itu menatap satu piring nasi goreng di hadapannya ditemani kekosongan di ruang makan itu. Rasanya begitu sunyi dan dingin. Tidak ada aura kehangatan seperti keluarganya yang duluu. Dengan seulas senyum kecil, pemuda itu meraih sendok dan melahap sarapannya perlahan. “Padahal, dulu ada mama yang selalu bikinin sarapan buat kita, Pa. Terus, kalau mau berangkat sekolah, Papa selalu bilang kalau Bagas boleh lakuin apa pun yang bisa buat Bagas bahagia sambil elus kepala Bagas.” Bagas terkekeh. “Sekarang Bagas benar-benar udah dibuang, ya, sama kalian?” monolognya pelan.

Bagas teringat kembali senyuman perempuan yang menurutnya paling ayu di dunia. “Bagas, jangan pernah lupa untuk selalu tersenyum dan bersyukur, ya.” Mamanya pernah mengatakan kalimat itu dengan wajah penuh senyuman. Kemudian, satu kecupan penuh kasih sayang mampir di pucuk penghidunya sebagai pengantar tidur. Kala itu Bagas masih berada pada usia delapan yang masih suka dibacakan dongeng atau dinyanyikan lagu sebelum tidur oleh mamanya atau Bi Asri. Dulu, Bagas hanya anak kecil biasa yang hidup bahagia bersama mama yang cantik seperti peri dan papa yang hebat penuh kehangatan. Bagas merasa bahwa dunia ini mendewasakannya dengan cara yang paling indah. Apalagi dengan musik-musik yang mamanya kenalkan. Hingga hari ini Bagas masih merawat dengan baik gitar akustik berwarna biru pemberian mama sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke lima belas, dua tahun lalu. Sejatinya Bagas adalah pemuda yang paling bahagia di dunia, namun ia tidak tahu mengapa kehidupannya yang semula indah itu mampu binasa begitu saja. Apakah ini balasan dari Tuhan karena dirinya yang tak pandai bersyukur?

Setelah menuntaskan sarapannya, Bagas meraih tas punggungnya kemudian memberikan salam kepada Bi Asri untuk berangkat sekolah. Meski suasana hatinya jadi sedikit bermendung karena mengingat kembali kenangan keluarganya, Bagas tetap berusaha semangat. Ia meraih kunci motor berwarna hitam di sakunya, tak lupa juga diajaknya sebuah gitar akustik yang kini ia simpan di punggungnya kemudian bergegas menuju garasi. Tidak ada waktu bagi Bagas untuk bersedih dan menyesali segala keadaan ini. Ia tidak bisa marah atas segala hal yang telah terjadi dalam keluarganya. Meski menjadi satu-satunya orang yang ditinggalkan, Bagas tahu bahwa dirinya harus tetap melangkah maju karena waktu tidak akan berhenti hanya karena keluarganya hancur.

Satu ulas senyum yang manis terbit pada bingkai wajah pemuda bernama Bagas itu. Ini adalah hari yang cerah, tak seharusnya ia bersedih. Apalagi hari ini Bagas akan mengikuti lomba musik bersama band-nya di sekolah. Seharusnya ia banyak berdoa agar hari ini berjalan dengan lancar. Ia segera bergegas menaiki kendaraan besi itu dan membelah jalanan kota Yogyakarta dengan semangat yang penuh.

♫♫♫

Suasana lapangan masih ramai karena acara Festival Seni SMA Lentera baru saja diakhiri dengan diumumkannya juara satu lomba musik, yaitu band milik Bagas dan teman-temannya. Bak air sungai yang menguap kala musim penghujan, Bagas tenggelam dalam kebahagiaannya. Teman sekelasnya bersorak paling keras kala Bagas berdiri di atas panggung untuk mengucapkan sepatah dua patah kata mewakili rekan band-nya. Selepas turun, ia sibuk bergurau dengan temannya di tengah kerumunan tawa yang memekakkan telinga.

“Bagas!”

Si pemilik nama mengangkat pandangannya mencoba menelusuri keramaian dan menemukan satu wajah penuh senyuman menatapnya dengan antusias. Namanya Sekar, sahabat baiknya. “Cie! Yang barusan dapat juara satu. Selamat ya, Bagas!”. Bagas tersenyum malu menanggapinya. “Aku udah nggak kaget, sih. Udah jelas, pasti kamu juaranya!” ujar Sekar menambahi. Bingkai wajah gadis itu dipenuhi senyuman yang cerah seperti cahaya sang baskara, dan mau tau mau Bagas juga turut menerbitkan seulas senyum karenanya.

“Tahu dari mana kalau aku pasti menang?” tanya Bagas basa-basi.

“Ya ampun, Bagas! Kamu nggak sadar, ya? Permainan musik kamu itu bagus! Skill gitar kamu keren kayak Rhoma Irama, suara kamu juga merdu mirip Nassar Oppa!” seru Sekar penuh semangat.

Bagas merengut tak senang. “Terserah kamu aja, Kar. Terserah!”

“He he he, aku yakin mama kamu pasti bangga,” kata Sekar dengan serius. “Karena kamu anak baik, Gas. Aku pengin lihat kamu senyum terus, pokoknya.”

Sebuah kekehan manis merasuk pada pendengaran Bagas dan membuat dirinya yang semula sedikit kesal menjadi turut bahagia karena gadis di hadapannya itu. Sekar adalah orang pertama yang selalu mengubur dukanya. Sejak kecil gadis itu telah menjadi teman karibnya. Suka dan duka keduanya lewati bersama. Bahkan mungkin jika dihitung, separuh kehidupan Bagas diisi dengan kebersamaannya bersama Sekar. Bagas mungkin tak mampu mendefinisikan sebera berharganya Sekar baginya, namun yang jelas ia tak mau kehilangan Sekar seperti ia kehilangan keluarganya.

“Oke, sekarang waktunya serah terima hadiah!” seru Sekar dengan keras. Bagas mengerutkan dahinya bingung ketika gadis itu menyerahkan kotak berukuran sedang ke hadapannya. “Buka, dong. Ini hadiah spesial dari Sekar,” desak Sekar kemudian.

Bagas membuka kotak itu lalu ditemukannya sebuah strap berwarna biru muda beserta tiga buah pick yang juga berwarna senada. Setelah itu, Bagas menatap sahabatnya tanpa ekspresi. Sedangkan si tersangka justru malah sibuk cekikikan geli. Bagas pasti terharu. Pikir Sekar.

“Aku tahu kamu suka warna biru,” kata Sekar membahas warna benda-benda yang kini ada di tangan Bagas.

“Selama ini kamu selalu baik ke aku, Kar. Kayaknya ucapan terima kasih aja terlalu sederhana buat kamu. Aku janji, ini adalah hadiah paling berharga setelah gitar dari mama yang bakalan aku jaga terus,” balas Bagas dengan serius.

Tak sedetik pun Bagas mengakhiri senyuman di wajahnya. Hari ini adalah hari paling bahagia yang Bagas alami. Dimulai dari pengumuman juara dan hadiah dari Sekar, semuanya akan Bagas simpan sebagai kenangan paling manis tahun ini.

Semburat jingga turut mengantarkan Bagas pulang kembali ke rumahnya yang sepi. Pemuda itu sengaja mengeluarkan piala kebanggannya tadi seraya menggendong gitar kesayanganya di punggung. Langkahnya terasa begitu ringan ketika hendak masuk ke dalam rumah. Kali ini ia akan bercerita kepada Bi Asri tentang harinya yang indah itu. Namun, seperti cahaya mentari yang tertelan senja di antara garis katulistiwa, wajah yang semula cerah itu menjadi redup. Bagas menciut mendapati sorot mata tajam milik papanya yang seakan siap mengulitinya.

“Kenapa jam segini baru pulang?” tanya pria berusia lima puluhan itu dengan nada dingin. Bagas terdiam dan menunduk. “Jawab!” sentaknya kemudian.

Tiga detik terisi kesunyian, langkah sepatu yang beradu dengan dinginnya lantai itu merasuk pada telinga Bagas. Seluruh tubuh Bagas kaku dan dingin ketika ia mendapati jarak papanya begitu dekat dengannya. Dengan cepat laki-laki paruh baya itu merebut pialanya. Kemudian, nasib benda kecil itu berakhir tragis di lantai. Suara pecahan kaca begitu nyaring menyeruak di ruangkan kubus itu.

Bagas tidak apa-apa. Toh, itu bukan piala pertama yang papanya banting ke lantai. Nasib piala-pialanya yang terdahulu juga sama seperti itu.

“Kamu main musik lagi?”

Suara dalam nan dingin itu membuat Bagas mengepalkan tangannya. Kali ini ia memberanikan diri menatap manik jelaga milik papanya yang begitu kelam. “Kenapa Papa nggak pernah suka lihat Bagas bermusik? Bagas ingin bermusik. Bagas mencintai musik,” jelas pemuda itu dengan nada suara yang bergetar karena rasa takut setengah mati.

“Musik itu tidak berguna! Kamu nggak akan jadi orang sukses hanya karena memetik senar gitar!” Papa menggertaknya dengan suara keras.

Gendang telinga Bagas merangkum dengan jelas kalimat yang Papanya lontarkan dengan keras barusan. Laki-laki paruh baya itu sontak meraih tas gitarnya dan merematnya kuat-kuat. Lalu, pada sekon berikutnya gitar malang itu meluncur menuju lantai hingga meremukkan perawakannya.

Tidak! Itu gitarku yang paling berharga di dunia. Hadiah terakhir yang aku dapatkan dari Mama.

Bagas mengamatinya dengan tatapan yang sulit diartikan. Entah, Bagas tidak ingat lagi, rasa sayang yang ia curahkan lewat melodi yang dipetiknya dari gitar cantik itu seperti hancur begitu saja. Perasaan Bagas hancur karena Papanya

“Tapi dengan memetik gitar, Bagas bahagia. Musik selalu mengingatkan Bagas sama kenangan bareng Mama.”

Tidak ada hal yang paling membuat Bagas merasa begitu tersiksa daripada harus menerima kenyataan bahwa keluarnya harus hancur kala itu. Cowok itu berpikir, mungkin ia tidak akan pernah lagi menikmati pelangi yang dilukiskan Tuhan selepas badai. Ia pikir semua kisahnya sudah usai digerus masa hingga ia tidak akan pernah menemui sebuah kebahagiaan yang pernah ia impikan dulu.

“Kamu sudah dewasa, Bagas! Kamu seharusnya tahu apa yang semestinya kamu lakukan demi masa depan kamu. Musik itu sama sekali tidak penting!”

Bagas kala itu hanya remaja usia lima belas tahun yang berusaha menikmati lukanya sendiri. Yang belum begitu tahu pahitnya kehidupan yang sebenarnya akan ia lalui kelak. Dan pada akhirnya lara yang sekian lama ia dekap semakin mencekiknya dalam kesendirian dan rasa yang sakit luar biasa. Bagas tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk menutupi lukanya karena Mama yang pergi menemui Tuhan terlebih dahulu sehingga membuat Papanya kacau dan berubah.

“Tolong, camkan baik-baik ucapan Papa. Kamu tidak akan bisa kuliah kedokteran kalau sekarang masih bermain-main dengan musik.”

Menerima, hanya itu yang harus Bagas lakukan. Menerima bahwa ia sudah kehilangan Mama, serta menerima setiap perlakuan kasar yang papanya lakukan. Rasanya tidak ada jalan keluar untuk jiwanya yang menderita. Bagas juga tak mau menyeret siapapun masuk ataupun melihat dunianya yang sudah tak menyisakan apapun selain duka. Bagas sudah terlalu banyak kehilangan hal-hal berharga dalam hidupnya hingga kini banyak cerita yang terus dipendamnya sendirian. Cerita-cerita kecil yang tak pernah terasa manis lagi bagi Bagas.

♫♫♫

“Selamat ulang tahun yang ke tujuh belas, Bagas!”

Kala itu bel pulang sekolah berdering nyaring. Sekar berlari di sepanjang koridor menuju ruang kelas Bagas. Menerobos kerumunan murid-murid lainnya tanpa takut apabila tersandung dan jatuh. Sekar memang begitu, terlalu ceroboh dan gembira ketika hendak bertemu Bagas. Bibir tipisnya tak berhenti menyerukan kalimat selamat ulang tahun, seakan ingin memberi tahu semua orang bahwa sahabatnya sedang merayakan hari jadinya.

“Ssstt … Sekar! Jangan teriak-teriak.” Bagas menaruh telunjuknya di depan bibir gadis itu sambil berekspresi kesal. Pasalnya ia jadi merasa malu karena puluhan pasang mata kini menatapnya dengan semburat senyum kegelian. Seperti biasa. Sekar berakhir dengan suara kekehannya yang manis di telinga Bagas.
Bagas tersenyum lalu mendekatkan wajahnya pada telinga gadis itu. Ia berbisik, “Aku mau ajak kamu ke suatu tempat buat ngerayain ulang tahun aku.”
Nayanika itu menatap Bagas dengan yakin. Tanpa banyak bertanya, Sekar lekas mengangguk menyetujui ajakan itu. Keduanya berdampingan. Sekar mengikuti tiap-tiap langkah lebar yang kaki panjang Bagas ciptakan. Yang sebenarnya tak Sekar ketahui tujuannya ke mana. Di hari yang seharusnya dirayakan ini, pemuda itu justru lebih banyak diam daripada hari biasanya. Bagas kenapa lagi, ya? Sekar bertanya dalam hatinya.

“Sekar, apa kamu tahu kalau aku udah nggak suka warna biru lagi?” Di sela hening Bagas membuka suara.

Si lawan bicara yang berjalan di samping Bagas itu mengalihkan atensinya pada sepasang netra Bagas yang terlihat redup. Sekar menggeleng. “Kenapa? Padahal dulu kamu pasti nangis kalau Papapmu ganti warna cat kamarmu selain warna biru. Kamu juga selalu ngembek kalau aku pinjam sepeda birumu. Oh iya, kamu dulu juga pernah merengek minta dibelikan tas sekolah warna biru. Lalu, gitarmu! Gitarmu juga warna biru. Kenapa sekarang jadi nggak suka lagi?” berondong gadis itu dengan tanya.

“Karena Mama pergi di hari yang cerah. Hari dimana langit nggak dihiasi apa-apa dan menyisakan hamparan biru yang hampa. Kayak sekarang,” jelas Bagas dengan nada bicara rendah. “Aku jadi muak lihat warna biru,” sambungnya.

Tentu saja bohong apabila Sekar tidak menyadari kesedihan Bagas selama ini. Sejak kepergian Mama, kehidupan pemuda itu menjadi jungkir balik. Tidak ditemukannya lagi sosok Bagas yang periang dan penuh dengan tawa. Tidak ada yang tersisa selain kekosongan dan kesedihan yang begitu melekat dalam hatinya. Bagas tidak bisa melepaskan segala kenangan bersama Mamanya. Kenangan itu indah, namun juga menyakitinya karena Bagas tahu bahwa ia tak bisa lagi mengulang kejadian-kejadian lalu itu.

Dengan lembut Sekar meraih jemari Bagas yang menggantung lemah di sisi tubuhnya. Gadis itu mengenggamnya berharap bahwa Bagas merasakan kehangatannya. Orang seperti Bagas pantas untuk direngkuh. Sekar ingin mendekapnya lalu mengatakan padanya bahwa Bagas tak pernah sendiri. Ia ada bersamanya.

“Sekar, sebelum kamu ucapin selamat ulang tahun ke aku, tolong ucapin terima kasih dulu ke Mama yang udah membawaku lahir ke dunia tepat tujuh belas tahun lalu.”

Inilah ‘suatu tempat’ yang Bagas katakan untuk merayakan ulah tahunnya. Sebuah gundukan tanah berumpun hijau tak terurus. Dapat Sekar lihat dengan jelas bagaimana Bagas menatap tempat peristirahatan Mamanya itu dengan penuh kasih. Sepertinya Bagas sangat merindukan Mamanya.

Sekar menunduk memberikan salam. “Selamat siang, Tante. Hari ini adalah hari paling istimewa buat Bagas. Saya mau berterimakasih banyak sama tante karena udah membawa Bagas hadir di dunia. Terima kasih udah membesarkan Bagas dengan penuh kasih sayang.” Sekar melirik sahabatnya itu sejenak kemudian mulai berbicara lagi. “Bagas sekarang udah nggak cengeng. Malah jutru lebih kuat dan tangguh. Oh iya, Bagas hampir tiap hari kesiangan, akhirnya telat ke sekolah, deh. Tapi, aku yakin kalau Tante masih di sini sekarang, Tante pasti bangga sama dia. Soalnya aku juga bangga punya sahabat kayak Bagas.” Satu ulas senyuman terbit di wajah Bagas karena mendengar kalimat terakhir yang Sekar ucapkan.

Bagas mengeluarkan sebuah kotak dari dalam tasnya. Benda itu berisi pecahan-pecahan piala yang beberapa hari lalu dihancurkan papanya. Piala yang sudah susah payah ia dapatkan di acara sekolah sebelumnya. Ia meletakkan benda itu tepat di samping pusara Mamanya.

“Cuma ini kado yang bisa Bagas kasih buat Mama, tapi maaf, kemarin nggak sengaja dirusak sama Papa.” Bagas tersenyum getir. Beberapa detik kemudian ia menunduk. Bahu Bagas bergetar karena menahan tangis.

Sekar mengusap lembut bahu pemuda itu. “Nggak apa-apa, Bagas. Laki-laki itu boleh menangis. Kamu nggak bisa terus menutupi kesedihan kamu dengan senyuman.”
Tentu saja, Bagas meluapkan air mata yang selama ini ditahannya.

“Bagas rindu Mama,” rintih Bagas menyela tangisnya.

Bagas tahu bahwa akan selalu ada perubahan pada hidup. Sedangkan, semua pilihan itu telah ada di tangannya. Entah itu kesedihan atau kabar gembira sekalipun, semua akan datang menghampirinya. Selain itu, kehilangan merupakan hal yang pasti. Yang tidak wajar itu kesedihannya yang terus berlarut.
Hari ini juga cerah. Langit mempertontonkan hamparan biru lagi yang tetap terlihat hampa di mata Bagas. Mungkin, pilihan yang sekarang harus Bagas ambil adalah berdamai dengan Papanya. Mungkin, satu-satunya hal yang bisa Bagas lakukan untuk Papanya adalah ‘menerima’. Mungkin, Bagas harus menata ulang dirinya demi masa depan, seperti yang Papanya katakan tempo hari.

“Sekar, aku sudah keluar dari club musik. Aku juga akan mengembalikan strap dan pick itu ke kamu.” Setelah menyudahi tangisnya, Bagas banyak diam. Baru kali ini ia membuka suara, ketika perjalanan pulang.

“Kenapa Bagas? Bukannya musik itu mimpimu?”

“Dulu alasanku bermusik adalah karena Mama, lalu sekarang aku akan berhenti bermusik untuk Papa. Aku akan menuruti kata-kata Papa.”

“Bagas, kamu tahu, ‘kan? Apapun keputusanmu, aku juga akan selalu dukung itu.”

“Aku akan mencintai musik dalam diam dan merindukan Mama sesekali saja.”

Sekar tersenyum manis. Bagas pun juga menyusulnya dengan seulas senyum yang tak kalah manis.

Sore itu tidak ada lagi yang tersisa antara Bagas dengan mimpinya, yakni musik. Seperti keinginan sang Papa, Bagas akan meninggalkan musik. Kemudian, hari itu seakan berakhir begitu saja ketika Bagas dan Sekar menyusuri jalan pulang dengan kedua jemari yang saling bertaut.

Untuk Bagas, aku harap kamu bisa melepaskan belenggu biru itu dari dirimu.


|| Yogyakarta, 25 Februari 2023 ||

Komentar

  1. Niceee authorrr, feelnya dapet. Teenage gini biasanya banyak yang relate. Suka sama gaya penulisannya yang nggak terlalu berat dan penggunaan bahasa yang termasuk enak dibaca. Semangat author, ditunggu karya lainnyaaa ❤️❤️❤️

    BalasHapus
  2. Niceee authorrr, feelnya dapet. Teenage gini biasanya banyak yang relate. Suka sama gaya penulisannya yang nggak terlalu berat dan penggunaan bahasa yang termasuk enak dibaca. Semangat author, ditunggu karya lainnyaaa ❤️❤️❤️

    BalasHapus
  3. Wahhh kerenn banget ceritanya. Makna ceritanya dapet, penggunaan diksinya bagus, alur ceritanya juga menarik. Ditunggu karya-karya selanjutnyaaa 💗💗

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sekarya: Analisis Naskah Drama “Malam Jahanam” karya Mottinggo Boesie

Sekarsa: Kembali

Sekarya: Ikatan di Gunung Kacangan